Media Kampung – Seorang filsuf Kristen dari Rusia, Alexander Dugin, mengungkapkan pandangan kontroversial mengenai kelompok-kelompok seperti Salafi, Wahabi, Al-Qaeda, dan ISIS. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut bukanlah representasi Islam yang sebenarnya melainkan instrumen yang diciptakan dan dikendalikan oleh CIA dan Mossad Israel.
Dugin menilai bahwa kelompok-kelompok ini merupakan kelompok takfiri yang mudah mengkafirkan sesama Muslim dan sengaja digunakan untuk memecah belah umat Islam. Ia menegaskan bahwa selama ini narasi yang menyebut kelompok tersebut sebagai musuh Barat atau ekstremis Islam adalah narasi palsu yang sengaja dibangun oleh propaganda media global.
Filsuf yang dikenal dengan gagasan Eurasianisme ini menyoroti sejarah kelahiran Al-Qaeda dan ISIS. Al-Qaeda muncul dalam konteks perang melawan Uni Soviet di Afghanistan, di mana Amerika Serikat melalui CIA mendukung para mujahidin termasuk Osama bin Laden. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Al-Qaeda berubah menjadi musuh Amerika, namun Dugin mempertanyakan apakah ini kebetulan atau bagian dari skenario yang lebih besar.
Begitu pula dengan ISIS yang lahir pasca invasi Amerika ke Irak pada 2003. Pembubaran militer Irak oleh Amerika menyebabkan ribuan perwira Sunni kehilangan pekerjaan, yang kemudian bergabung dengan kelompok radikal. Penjara-penjara yang dikelola Amerika menjadi tempat berkumpul dan pembinaan para pemimpin ISIS, yang menurut Dugin bukanlah kebetulan melainkan desain yang disengaja.
Dalam pandangannya, ada pola yang sistematis dimana kelompok radikal diciptakan untuk melawan musuh geopolitik, kemudian dibiarkan menjadi ancaman yang memicu kemarahan publik. Kekejaman kelompok ini digunakan sebagai alasan untuk invasi dan perluasan pengaruh Barat di Timur Tengah, sehingga perang berkepanjangan tetap terjaga demi kepentingan Amerika dan Zionis.
Dugin mengkritik sikap kelompok-kelompok takfiri yang sangat vokal mengkafirkan sesama Muslim, terutama Syiah dan Sufi, namun sangat diam dan bahkan cenderung menghindari kritik terhadap Israel. Menurutnya, hal ini menegaskan bahwa mereka adalah alat yang tidak dapat menyerang atau mengkritik pelindung dan pemberi dana mereka.
Perbedaan mencolok antara kelompok takfiri dan poros perlawanan yang dipimpin Iran juga menjadi sorotan. Poros perlawanan fokus menghadapi musuh utama yaitu Zionis dan Amerika, sementara kelompok takfiri sibuk mengkafirkan sesama Muslim dan menjadi alat yang memecah belah umat Islam.
Dugin menggunakan analogi serigala berbulu domba untuk menjelaskan kelompok takfiri yang menyamar sebagai pejuang Islam namun sesungguhnya menjadi musuh dalam selimut. Ia juga menyebut mereka sebagai tangan yang menusuk dari dalam tubuh umat Islam, melemahkan dan memecah belah dari dalam.
Observasi di lapangan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ini jarang menyerang Israel atau Amerika secara signifikan, yang mengindikasikan adanya hubungan khusus dengan intelijen Barat dan Zionis. Serangan 9/11 disebut sebagai pengecualian yang justru digunakan Amerika sebagai alasan invasi ke Afghanistan dan Irak.
Dugin menegaskan bahwa kelompok takfiri adalah alat yang diciptakan dan didanai oleh CIA dan Mossad untuk melanggengkan hegemoni Barat di Timur Tengah dan memecah belah umat Islam. Ia menolak klaim bahwa mereka adalah pejuang Islam dan menyerukan agar umat tidak terjebak dalam propaganda yang membingungkan fokus perjuangan sesungguhnya.
Pernyataan tegas dari Dugin ini mengajak umat Islam untuk bersatu bersama poros perlawanan yang berjuang melawan Zionis dan Amerika, mengakhiri konflik internal yang merugikan, dan fokus pada musuh yang sebenarnya demi mencapai kemenangan dan pembebasan Palestina.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan