Media KampungGunung Dukono di Maluku Utara masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi dengan status Level II atau Waspada. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan erupsi terjadi pada Kamis pagi dengan kolom abu mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak gunung.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebutkan bahwa kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan arah sebarannya condong ke barat laut. Kondisi ini berpotensi memengaruhi permukiman warga hingga wilayah Kota Galela.

Akibat sebaran abu vulkanik, masyarakat diimbau waspada karena hujan abu dapat mengganggu kesehatan, aktivitas harian, transportasi, serta kebersihan lingkungan. Data Badan Geologi mencatat rata-rata 48 kali erupsi setiap hari sejak 9 Mei hingga 14 Mei 2026 dengan ketinggian kolom abu bervariasi antara 600 hingga 4.300 meter di atas puncak.

Sebelumnya, pada 8 Mei 2026, Gunung Dukono sempat mengalami erupsi besar dengan kolom abu mencapai 10.000 meter. Mengingat kondisi ini, Badan Geologi menyarankan warga, wisatawan, dan pendaki agar tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang, pusat aktivitas erupsi gunung tersebut.

Selain itu, masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi aliran lahar terutama ketika hujan lebat yang bisa terjadi di sekitar aliran Sungai Mamuya, Sungai Mede, dan Sungai Tauni yang berhulu di puncak Gunung Dukono. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Maluku Utara dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara terus melakukan koordinasi intensif dengan Pos Pengamatan Gunung Api Dukono di Desa Mamuya untuk memantau perkembangan situasi.

Dengan kondisi aktivitas vulkanik yang masih tinggi, kewaspadaan warga tetap menjadi prioritas utama untuk mengantisipasi dampak yang mungkin timbul dari erupsi Gunung Dukono.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.