Media Kampung – Gangguan GPS penerbangan kembali terjadi di Indonesia dan memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan penerbangan nasional. Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, mendesak adanya investigasi mendalam terhadap AirNav Indonesia dan otoritas bandara terkait fenomena ini.

Gangguan sinyal GPS tersebut dilaporkan terjadi secara masif pada dua periode, yaitu 8-13 April 2026 dan 5-6 Mei 2026. Dalam rentang waktu tersebut, sedikitnya 52 penerbangan komersial mengalami gangguan yang memengaruhi sistem navigasi mereka. AirNav Indonesia sebelumnya telah mengeluarkan peringatan kepada komunitas pilot dan Ikatan Pilot Indonesia juga memberikan imbauan agar para pilot meningkatkan kewaspadaan serta tidak hanya mengandalkan sistem navigasi berbasis GPS.

Saadiah menegaskan bahwa gangguan GPS sangat berbahaya karena sistem navigasi pesawat modern sangat bergantung pada sinyal tersebut. Gangguan tersebut tidak hanya dapat menyebabkan kesalahan posisi pesawat, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi autopilot dan sistem terrain awareness yang sangat vital untuk mencegah tabrakan dengan permukaan bumi atau pegunungan.

Politikus PKS ini meminta agar AirNav, operator bandara, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara segera menindaklanjuti masalah ini dengan investigasi yang transparan dan menyeluruh. Investigasi tersebut harus meliputi sumber interferensi, wilayah yang rawan, pola gangguan, serta kemungkinan adanya unsur kesengajaan di ruang udara Indonesia.

Lebih lanjut, Saadiah mengingatkan bahwa meski pilot dilatih menghadapi kondisi darurat navigasi, gangguan teknologi yang terus berulang dapat membatasi kemampuan mereka dalam menjaga keselamatan penerbangan. Oleh karena itu, penanganan masalah gangguan GPS harus menjadi prioritas utama bagi otoritas penerbangan nasional.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi terbaru mengenai hasil investigasi terhadap gangguan GPS tersebut. Namun, desakan DPR ini menandai urgensi penanganan cepat agar keselamatan penerbangan di Indonesia tetap terjaga dan gangguan serupa tidak kembali terjadi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.