Media KampungBudaya kerja Amerika Serikat yang sangat kompetitif membuat produktivitas warga terus meningkat, tetapi di sisi lain krisis kurang tidur semakin menjadi masalah serius. National Sleep Foundation melaporkan bahwa pada 2025, enam dari sepuluh orang dewasa di Amerika Serikat tidak mendapatkan waktu tidur yang ideal.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa hampir 40 persen orang dewasa mengalami kesulitan tidur beberapa kali dalam seminggu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah mengkategorikan kurang tidur sebagai masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Selain berdampak pada kesehatan individu, kurang tidur juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar, diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar setiap tahunnya menurut riset dari RAND.

Jika dibandingkan dengan negara maju lain, rata-rata waktu tidur masyarakat Amerika Serikat tergolong lebih pendek. Studi global pada 2025 mencatat bahwa warga Prancis rata-rata tidur hampir delapan jam per malam, sementara Kanada dan Inggris juga memiliki durasi tidur yang lebih lama dibandingkan Amerika Serikat yang hanya sekitar tujuh jam.

Perbedaan ini erat kaitannya dengan budaya kerja dan gaya hidup yang berlaku. Banyak negara Eropa menempatkan waktu istirahat, cuti panjang, dan keseimbangan hidup sebagai hal penting, berbeda dengan Amerika Serikat yang menganggap kesibukan dan produktivitas sebagai tolok ukur kesuksesan. Akibatnya, tidur kerap dikorbankan demi memenuhi tuntutan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Budaya yang menilai kesibukan sebagai simbol ambisi dan dedikasi semakin memperparah krisis tidur. Dalam banyak lingkungan kerja di Amerika Serikat, mereka yang bekerja keras meski kurang tidur sering dipandang lebih produktif dan berdedikasi. Tak jarang pekerja merasa bersalah jika mengambil waktu istirahat karena khawatir dianggap kurang serius terhadap kariernya.

Perkembangan teknologi juga membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Pesan dan rapat kerja bisa datang kapan saja, bahkan di luar jam kantor, sehingga banyak orang mengorbankan tidur untuk menyelesaikan pekerjaan atau sekadar mendapatkan waktu luang setelah hari yang padat.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi, produktivitas, dan kemampuan pengambilan keputusan. Dengan demikian, budaya kerja yang menuntut terus aktif tanpa istirahat cukup justru berpotensi merugikan produktivitas itu sendiri.

Dampak kurang tidur tidak hanya terlihat dari kelelahan sehari-hari, tapi juga berkontribusi pada risiko kesehatan serius seperti obesitas, diabetes tipe dua, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, serta gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, menurut data Pusat Data Kesehatan Nasional Amerika Serikat.

Selain itu, kurang tidur terkait dengan meningkatnya risiko kecelakaan kerja dan lalu lintas. Ribuan kecelakaan di Amerika Serikat setiap tahun dikaitkan dengan pengemudi yang mengantuk atau kelelahan. Kondisi ini menambah beban masalah kesehatan dan keselamatan yang harus dihadapi negara tersebut.

Beberapa perusahaan di Amerika Serikat mulai mengintegrasikan program kesehatan tidur dalam kebijakan kesejahteraan karyawan. Selain itu, beberapa sekolah menyesuaikan jam masuk demi memenuhi kebutuhan tidur remaja berdasarkan hasil penelitian. Meski begitu, perubahan budaya ini berjalan lambat dan kesadaran publik yang meningkat belum sepenuhnya mampu mengatasi krisis kurang tidur yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup produktif di negara tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.