Media Kampung – 18 April 2026 | Lululemon kini berada di bawah penyelidikan Texas terkait kemungkinan keberadaan PFAS, atau “forever chemicals”, dalam produk pakaian olahraga mereka, menimbulkan pertanyaan tentang keamanan konsumen. Penyidikan ini juga menilai apakah perusahaan memberikan informasi yang menyesatkan tentang penggunaan bahan kimia tersebut.

Pada 17 April 2026, Kantor Kejaksaan Agung Texas yang dipimpin oleh AG Ken Paxton mengumumkan penyelidikan resmi yang mencakup prosedur pengujian, rantai pasokan, serta klaim pemasaran Lululemon terkait PFAS. Fokus utama adalah memastikan kepatuhan terhadap regulasi federal dan perlindungan konsumen.

Lululemon menanggapi dengan menyatakan bahwa mereka tidak lagi menggunakan PFAS sejak tahun fiskal 2023, setelah menghapus bahan tersebut dari produk water‑repellent yang hanya mencakup sebagian kecil koleksi mereka. Seorang juru bicara perusahaan mengatakan, “Kami mewajibkan semua pemasok melakukan pengujian secara berkala oleh lembaga pihak ketiga yang kredibel untuk memastikan kepatuhan berkelanjutan.”

Meskipun perusahaan mengklaim telah menghentikan penggunaan PFAS, para ahli memperingatkan bahwa jejak kimia tersebut dapat tetap terdeteksi pada barang yang diproduksi sebelum fase penghentian. Analisis laboratorium independen masih diperlukan untuk mengkonfirmasi keberadaan residu pada stok lama.

PFAS merupakan kelompok zat sintetis yang dikenal karena sifat tahan air dan noda, namun juga dikenal sebagai “forever chemicals” karena sulit terurai di lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa zat ini dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh manusia selama bertahun‑tahun.

Dampak kesehatan yang dihubungkan dengan paparan PFAS meliputi peningkatan risiko beberapa jenis kanker, gangguan hormon, masalah fertilitas, serta penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh. Organisasi Kesehatan Dunia telah mencatat bahwa paparan kronis dapat menimbulkan efek sistemik yang signifikan.

Di Carolina Utara, kontaminasi PFAS telah teridentifikasi pada banyak sistem penyediaan air minum, terutama di daerah aliran Sungai Cape Fear yang selama dekade terakhir menerima limbah industri. Data resmi mengindikasikan bahwa jutaan penduduk terpapar kadar PFAS terdeteksi dalam air mereka.

Salah satu sumber utama kontaminasi adalah fasilitas Chemours di Fayetteville Works, yang selama bertahun‑tahun menimbulkan gugatan hukum dan tindakan regulator atas pembuangan limbah berbahaya. Pemerintah negara bagian telah meluncurkan program pemantauan intensif untuk mengukur tingkat pencemaran.

Pada 20 April 2026, Komisi Manajemen Lingkungan Carolina Utara (EMC) mengadakan dengar pendapat publik di Raleigh untuk membahas rancangan peraturan baru mengenai limbah PFAS. Draft tersebut masih menuai kritik karena dianggap memberi wewenang kepada pencemar untuk melaporkan sendiri tingkat pencemaran tanpa sanksi yang jelas.

EMC juga menjadwalkan sesi lanjutan di Wilmington pada 23 April 2026, memberi kesempatan kepada warga untuk memberikan komentar tertulis hingga 15 Juni melalui email. Partisipasi masyarakat diharapkan dapat mempengaruhi keputusan akhir regulasi.

Pengawasan PFAS tidak hanya terbatas pada pakaian, melainkan meluas ke makanan, peralatan dapur, dan produk konsumen lain yang mengandung lapisan anti‑lemak. Oleh karena itu, regulator federal AS menargetkan penetapan batas maksimum yang ketat untuk melindungi publik.

Di tingkat internasional, Uni Eropa telah mengadopsi kebijakan “Zero‑PFAS” yang melarang produksi dan impor bahan kimia ini sejak 2025, menimbulkan tekanan tambahan pada produsen global termasuk Lululemon. Kebijakan ini menjadi acuan bagi negara bagian AS yang mempertimbangkan standar serupa.

Bagi konsumen Lululemon, langkah perusahaan untuk menghentikan PFAS dapat menjadi nilai jual, namun kepercayaan tetap bergantung pada transparansi hasil uji independen. Beberapa organisasi konsumen meminta audit publik atas rantai pasokan tekstil global.

Sementara itu, penurunan penjualan Lululemon pada kuartal terakhir dikaitkan dengan tekanan margin dan kekhawatiran konsumen terhadap keberlanjutan produk. Analis pasar mencatat bahwa isu PFAS dapat memperburuk tantangan pertumbuhan perusahaan.

Pemerintah Texas berencana mengeluarkan laporan akhir penyelidikan pada akhir tahun 2026, dengan kemungkinan denda atau perintah recall produk jika bukti menunjukkan pelanggaran. Keputusan tersebut dapat menjadi preseden bagi penyelidikan serupa di negara bagian lain.

Di Carolina Utara, upaya mitigasi meliputi pemasangan unit penyaring air dan program remediasi tanah yang didanai oleh industri serta dana publik. Efektivitas langkah tersebut masih dipantau oleh lembaga akademik dan LSM lingkungan.

Menurut seorang peneliti dari Universitas North Carolina, “Pengurangan PFAS memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari produsen tekstil hingga pengelola limbah industri, untuk menutup siklus kontaminasi.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya regulasi yang kuat.

Kondisi terkini menunjukkan bahwa penyelidikan Lululemon masih berlangsung, sementara peraturan PFAS di Carolina Utara akan dibahas dalam rapat akhir bulan ini. Kedua perkembangan tersebut akan menentukan arah kebijakan perlindungan konsumen dan lingkungan ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.