Media Kampung, Bandarlampung – Pedagang pakaian di Pasar Tugu, Jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang, Bandarlampung, mengeluhkan sepinya jumlah pembeli dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh perubahan kebiasaan masyarakat yang kini lebih memilih berbelanja secara online ketimbang datang ke pasar tradisional.
Salah seorang pedagang pakaian, Nur, mengatakan bahwa suasana pasar pada hari-hari biasa kini jauh lebih sepi dibandingkan beberapa tahun lalu. Keramaian biasanya baru terlihat menjelang Hari Raya Idulfitri, yang sedikit meningkatkan penjualan.
“Sekarang banyak masyarakat lebih memilih belanja online daripada datang langsung ke pasar,” kata Nur, Senin (6/7/2026).
Perempuan yang telah berjualan di Pasar Tugu selama 27 tahun ini menjual berbagai jenis pakaian setiap hari. Ia mengakui bahwa perubahan pola belanja masyarakat sangat memengaruhi pendapatannya. Akibatnya, penjualan pakaian terus menurun karena jumlah pembeli semakin berkurang.
Meskipun demikian, Nur tetap bertahan berjualan seperti biasa setiap hari. Ia memilih menunggu pembeli datang karena percaya bahwa rezeki setiap orang telah diatur oleh Allah.
“Saya hanya bisa tetap berdagang seperti biasa dan menunggu pembeli datang. Saya percaya rezeki sudah diatur Allah,” ujarnya.
Menurut Nur, pasar tradisional masih memiliki keunggulan dibandingkan belanja online, karena pembeli dapat melihat langsung kualitas barang. Selain itu, pembeli juga masih bisa menawar harga hingga mencapai kesepakatan dengan pedagang.
Nur berharap Pasar Tugu kembali ramai dikunjungi masyarakat, meskipun tidak seramai dahulu. Menurutnya, peningkatan jumlah pengunjung akan membantu pedagang kecil mempertahankan usahanya di tengah persaingan dengan belanja online.
“Saya berharap Pasar Tugu bisa ramai lagi. Walaupun tidak seperti dulu, setidaknya setengah dari pengunjung dahulu bisa kembali,” kata Nur.






















Tinggalkan Balasan