Media Kampung – KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya menjabat sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2026-2031. Terpilihnya beliau berdasarkan hasil musyawarah anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, menegaskan posisi KH Miftachul sebagai tokoh sentral dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Jabatan Rais Aam yang diemban KH Miftachul bukanlah posisi baru. Sejak 2018, beliau sudah mengemban amanah tersebut, menggantikan KH Ma’ruf Amin yang mundur untuk maju dalam Pilpres 2019. Kepercayaan ini kembali diperkuat dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021, dan kini berlanjut untuk periode 2026-2031.
Profil KH Miftachul Akhyar
Lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953, KH Miftachul Akhyar tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental. Ia merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Pendidikan keagamaan KH Miftachul ditempuh di berbagai pesantren terkemuka, termasuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Tambakberas, Jombang, serta pesantren di Pasuruan dan Lasem. Selain itu, beliau juga pernah belajar langsung kepada ulama besar Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Makki.
Setelah menimba ilmu, KH Miftachul mendirikan dan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya, yang menjadi pusat pengembangan ilmu agama dan dakwah beliau.
Karier Organisasi di Nahdlatul Ulama
Perjalanan karier KH Miftachul dalam Nahdlatul Ulama berjalan secara bertahap dan penuh dedikasi. Pada tahun 2000 hingga 2005, beliau menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya. Kemudian, pada tingkat provinsi, KH Miftachul dipercaya sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode berturut-turut (2007-2013 dan 2013-2018).
Pengalaman organisasi ini membawanya ke tingkat pusat, dimana pada 2015 ia menjadi Wakil Rais Aam PBNU. Posisi ini menyiapkan KH Miftachul untuk menjadi Penjabat (Pj) Rais Aam PBNU pada 2018 dan kemudian terpilih secara resmi dalam Muktamar PBNU berikutnya.
Peran di Majelis Ulama Indonesia
Selain kiprah di Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Akhyar juga pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai Ketua Umum sejak 2020. Ia menggantikan KH Ma’ruf Amin, namun mengundurkan diri dari jabatan tersebut pada 2022. Pengalaman ini menambah kredibilitas dan peran strategis beliau dalam dunia keagamaan di Indonesia.
Signifikansi dan Peran KH Miftachul Akhyar
Kehadiran KH Miftachul sebagai Rais Aam PBNU sangat penting dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai keagamaan Nahdlatul Ulama yang moderat dan inklusif. Beliau menjadi simbol keberlanjutan kepemimpinan ulama senior yang berpengalaman dalam membimbing umat dan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Dengan latar belakang pendidikan pesantren yang kuat dan pengalaman organisasi yang luas, KH Miftachul diharapkan dapat terus membawa PBNU dalam peran aktif membangun kerukunan umat beragama dan memperkuat peran NU dalam kehidupan sosial dan keagamaan nasional.














Tinggalkan Balasan