Media Kampung – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memaparkan sejumlah capaian organisasi selama masa kepemimpinannya dalam Sidang Pleno II Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/6/2026). Capaian tersebut mencakup tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian ekonomi, serta peran kebangsaan dan global.
Gus Yahya menyebut Munas dan Konbes kali ini merupakan forum terakhir sebelum Muktamar ke-35 pada Agustus mendatang. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan laporan awal, sementara laporan lengkap akan disampaikan di Muktamar nanti.
Transformasi Tata Kelola Organisasi
Gus Yahya menekankan pentingnya transformasi organisasi untuk meningkatkan daya adaptasi NU di tengah perubahan zaman. Ia mengingatkan bahwa entitas yang mampu bertahan adalah yang memiliki kemampuan beradaptasi, bukan sekadar yang besar atau kuat. Transformasi dilakukan tanpa mengubah struktur dan prinsip dasar organisasi, melainkan dengan memperbaiki performa melalui penataan norma dan aturan.
Hasilnya, kini NU memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADRT) yang terpisah, dengan 14 bab 33 pasal untuk AD dan 16 bab 72 pasal untuk ART. PBNU juga telah menerbitkan peraturan internal untuk meningkatkan efektivitas lembaga serta mengembangkan platform digital untuk mempermudah koordinasi dari pusat hingga cabang.
Kaderisasi Terstruktur: Lebih dari 130.000 Kader Lulusan PDPKP
Salah satu capaian utama adalah sistem pelatihan kader berjenjang. Gus Yahya melaporkan bahwa program Pelatihan Dasar Pengembangan Kepemimpinan dan Pengelolaan Organisasi NU (PDPKP NU) telah digelar lebih dari 1.000 angkatan dengan lulusan lebih dari 130.000 kader dari seluruh Indonesia. Sementara itu, program Pelatihan Manajemen Kepemimpinan NU (PMKNU) telah berjalan lebih dari 100 angkatan dan meluluskan lebih dari 3.000 kader.
Sistem ini dirancang sebagai sistem struktural berbasis meritokrasi, di mana setiap jenjang kepemimpinan diukur berdasarkan kapasitas, bukan sekadar popularitas atau faktor lain.
Kemandirian Ekonomi dan Konsolidasi Sumber Daya
PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya berhasil melakukan konsolidasi sumber daya pembiayaan. Peran Bendahara Umum Gudfan Arif Ghofur dinilai sentral dalam menginisiasi langkah-langkah mendapatkan pendapatan melalui usaha halal dan tidak mengikat, sehingga organisasi tidak lagi bergantung pada donasi. Berbagai amal usaha telah dikembangkan di bidang pertanian, peternakan, dan ekonomi kreatif.
PBNU juga telah mendapatkan konsesi tambang yang dikelola dengan prinsip tata kelola jelas. Gus Yahya berharap hasil tambang dapat dinikmati oleh organisasi ke depan tanpa risiko aset berpindah tangan.
Transformasi Pondok Pesantren dan Dakwah Digital
Gus Yahya menegaskan bahwa penguatan dan transformasi pondok pesantren menjadi agenda penting karena pesantren merupakan jantung NU. PBNU telah mendesain standar jaminan mutu pesantren yang diadopsi pemerintah, dan berharap penerapannya bersifat wajib untuk mencegah maraknya pesantren dadakan yang disalahgunakan.
Di bidang dakwah, PBNU mengorganisir para dai dan ulama untuk berkarya di ranah digital melalui pelatihan konten dan literasi digital, tanpa meninggalkan layanan konvensional. Hal ini dilakukan untuk menjaga tradisi keilmuan dan khidmat kepada umat.
Reposisi Politik dan Peran Global
Di bidang politik, Gus Yahya menyebut telah melakukan reposisi NU agar memiliki jarak yang terukur dan sama dengan semua pihak politik. NU berusaha tidak terlibat dalam kontestasi politik kekuasaan, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa seperti saat negara membutuhkan peran NU untuk survival. Terkait program pemerintah, NU akan mendukung sepanjang memiliki kemaslahatan bagi umat dan bangsa, seperti program Makan Bergizi Gratis dan perhutanan sosial yang telah membantu warga mengakses lahan seluas 400 ribu hektar.
Di kancah internasional, PBNU aktif menghadiri, menginisiasi, dan menyelenggarakan forum-forum global demi perdamaian dunia, termasuk melakukan engagement langsung dan upaya diplomatik untuk menyumbangkan gagasan solusi.
Menutup laporannya, Gus Yahya memohon restu dan dukungan seluruh pengurus, ulama, dan warga NU untuk menyelesaikan masa khidmatnya, serta memohon maaf atas kekurangan selama ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan