Media Kampung – Menjelang pergantian tahun, masyarakat Indonesia sering mendengar dua istilah: Satu Suro dan 1 Muharram. Meski kerap dianggap berbeda, keduanya sebenarnya merujuk pada hari yang sama dalam dua sistem penanggalan yang berbeda. 1 Muharram adalah hari pertama dalam kalender Hijriah yang digunakan umat Islam, sedangkan 1 Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa. Lantas, apa yang membedakan keduanya?

Menurut laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), kalender Hijriah didasarkan pada peredaran bulan atau kalender kamariah. Jumlah harinya lebih pendek dibanding kalender matahari, dan pergantian tanggal dimulai saat matahari terbenam. Sementara itu, tradisi 1 Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Ia memprakarsai penyatuan sistem penanggalan Saka (Jawa) dengan kalender Hijriah, sehingga 1 Suro jatuh pada tanggal yang sama dengan 1 Muharram.

Perbedaan utama terletak pada konteks dan makna di masyarakat. Dalam Islam, 1 Muharram diperingati sebagai Tahun Baru Hijriah dan momentum introspeksi diri. Di sisi lain, masyarakat Jawa memaknai malam 1 Suro dengan berbagai tradisi budaya seperti tirakatan, doa bersama, dan laku spiritual. Keduanya sama-sama menandai awal tahun dalam kalender masing-masing, namun akar sejarah dan cara perayaannya berbeda.

Dengan demikian, 1 Suro dan 1 Muharram pada dasarnya adalah hari yang sama, tetapi memiliki latar belakang dan tradisi yang berbeda. Perpaduan ini menunjukkan akulturasi budaya Jawa dan Islam yang telah berlangsung sejak zaman Sultan Agung.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.