Media Kampung – Uskup Agung Merauke, Petrus Canisius Mandagi, memberikan tanggapan terkait kontroversi seputar film dokumenter “Pesta Babi” yang tengah ramai diperbincangkan. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga sikap kritis saat menonton dan memahami tujuan serta proses pembuatan film tersebut agar pesan yang diterima tidak salah kaprah.

Dalam pernyataannya yang tersebar melalui video pada Senin, 25 Mei 2026, Uskup Mandagi menegaskan bahwa sejumlah narasi dalam film itu yang mengaitkan sikap Keuskupan Agung Merauke terhadap pembangunan di Papua Selatan tidak sepenuhnya mencerminkan pandangan resmi keuskupan. Ia juga menyoroti kurangnya komunikasi langsung dari pembuat film kepada pihak keuskupan untuk memperoleh klarifikasi atas isu yang diangkat.

“Kenapa tidak langsung bertanya kepada saya atau para pastor yang bertugas di wilayah tersebut?” ujar Uskup Mandagi yang menekankan pentingnya dialog langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat.

Lebih lanjut, Uskup Mandagi menilai setiap karya publik, termasuk film dokumenter, perlu menghadirkan sudut pandang yang seimbang agar tidak menimbulkan interpretasi yang keliru. Sikap kritis dan dialog yang konstruktif sangat diperlukan dalam melihat persoalan yang kompleks seperti pembangunan dan dinamika sosial di Papua.

Pernyataan Uskup Agung Merauke ini muncul di tengah perhatian publik terhadap film “Pesta Babi” yang mengangkat isu-isu sensitif berkaitan dengan masyarakat dan pembangunan di Papua Selatan. Keuskupan mengingatkan agar narasi yang berkembang tidak semata diambil dari satu sisi saja, melainkan harus melalui pendekatan yang inklusif dan dialogis.

Dengan demikian, Keuskupan Agung Merauke menegaskan posisi mereka sebagai mitra masyarakat yang aktif mendampingi dan berperan menjaga keharmonisan sosial di wilayahnya. Sikap ini diharapkan dapat meredam ketegangan serta memperkuat pemahaman bersama dalam menyikapi tantangan yang ada di Papua Selatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.