Setelah berhasil mempersatukan suku-suku nomaden Mongolia pada awal abad ke-13, Genghis Khan digambarkan dalam legenda lokal sebagai sosok yang mencari sebuah pusat sakral bagi kekaisarannya. Wangsit yang diyakini muncul dari Langit Biru Abadi — pelindung bangsa Mongolia — disebut telah menuntunnya menuju sebuah lembah luas yang kemudian dikenal sebagai Lembah Orkhon. Kawasan padang lapang itu sejak lama dihormati sebagai tanah keramat dan dianggap sebagai tempat bersemainya kekuatan budaya serta spiritual para penguasa Mongolia masa lampau.
Dari wilayah yang awalnya hanya berupa pos komando di persimpangan Jalur Sutra, kawasan ini berkembang menjadi Kharkhorum, kota kosmopolitan yang pernah ramai dengan aktivitas para pedagang, perajin, hingga penyimpan harta budaya. Namun kejayaannya tak berlangsung selamanya. Ketika Kublai Khan, cucu Genghis Khan, memilih memindahkan pusat kekuasaan ke wilayah yang kini menjadi Ulaanbaatar untuk mendekatkan kendali politik pada China, Kharkhorum perlahan ditinggalkan dan akhirnya terkubur oleh waktu serta angin stepa.
Meski telah lama hilang dari peta kekuasaan, memori tentang kota bersejarah itu tetap hidup di benak masyarakat Mongolia. Kini, upaya besar tengah dijalankan untuk menghidupkan kembali kota tersebut. Pemerintah Mongolia menyiapkan cetak biru ambisius senilai US$30 miliar, atau sekitar Rp480 triliun, untuk menjadikan Kharkhorum sebagai ibu kota baru. Langkah besar ini juga ditujukan untuk mengurangi beban polusi dan kemacetan di Ulaanbaatar yang selama ini menjadi masalah serius.
Wali Kota Kharkhorum, Khaltar Luvsan, menyampaikan bahwa kota tersebut dahulu berperan besar sebagai pusat budaya, agama, politik, dan ekonomi, setara dengan peran kota global masa kini. Ia menegaskan bahwa pemerintah ingin memadukan warisan sejarah itu dengan konsep kota pintar modern yang berbasis teknologi digital.
Di lapangan, kuda-kuda tampak merumput bebas di padang rumput yang berjarak sekitar 350 kilometer dari Ulaanbaatar, lokasi yang direncanakan sebagai titik pembangunan “Kharkhorum Baru”. Wilayah ini menjadi simbol langkah Mongolia dalam menata kembali arah pembangunan nasional sekaligus mendekatkan pusat pemerintahan ke jantung sejarah leluhur mereka.
Rencana pemindahan ibu kota ini juga sejalan dengan tren sejumlah negara di Asia Tengah yang menata ulang pusat administrasi demi pemerataan pembangunan, penyelesaian masalah perkotaan, serta menunjukkan arah baru kekuasaan yang lebih terukur dan visioner. Mongolia kini bersiap menapaki babak panjang berikutnya — babak yang membawa masa lalu dan masa depan berjalan berdampingan di tengah padang luas Orkhon. (putri).


















Tinggalkan Balasan