Media Kampung – Pemerintah akan menambah kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yakni pertalite, sebagai respons terhadap lonjakan permintaan dari konsumen yang berpindah dari BBM nonsubsidi. Menurut Bahlil Lahadalia, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, ada kenaikan kuota pertalite yang sedang dalam kajian.
Pergeseran Konsumen BBM
Pergeseran ini terjadi akibat tingginya harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax, yang meningkat sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran, mengakibatkan penutupan Selat Hormuz. Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah harus menyesuaikan kuota pertalite untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beralih ke bahan bakar bersubsidi.
Kajian Penambahan Kuota
Bahlil menyatakan bahwa kajian penambahan kuota akan dilakukan pada akhir bulan Oktober. Pemerintah juga sedang meninjau kesiapan anggaran untuk penambahan ini. “Untuk pertalite nanti coba saya akan melakukan exercise di akhir bulan ini, ya. Memang ada terjadi peningkatan,” ucap Bahlil.
Kenaikan Konsumsi Pertalite
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat bahwa konsumsi pertalite mengalami peningkatan hingga 12,92 persen pada Juli 2026, sebulan setelah kenaikan harga pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Rata-rata penyaluran pertalite sebelum kenaikan harga pertamax adalah 75.795 kiloliter (kl) per hari.
Setelah kenaikan harga, konsumsi pertalite tercatat sebanyak 82.760 kl per hari pada 10 Juni 2026, meningkat 9,19 persen. Pada Juli 2026, konsumsi pertalite kembali meningkat menjadi 85.589 kl per hari, tetapi ada penurunan pada Agustus menjadi 84.368 kl per hari.












