Media Kampung, SurabayaJerman mengirimkan jutaan ton limbah plastik ke Turki setiap tahunnya, termasuk mikroplastik yang dapat kembali masuk ke rantai pangan Eropa melalui pertanian. Data Basel Action Network menunjukkan pada 2025 Jerman mengekspor sekitar 814.000 ton limbah plastik, dengan 19% destinasi Turki.

Ekspor ini terjadi meski proses daur ulang plastik memerlukan biaya tinggi, sehingga banyak limbah berakhir di fasilitas daur ulang yang tidak sepenuhnya terkontrol. Di wilayah Adana, Turki, kanal irigasi pertanian terpapar air limbah dari pabrik daur ulang, menciptakan “siklus beracun” di mana mikroplastik diserap oleh tanaman dan berpotensi kembali ke pasar Eropa melalui produk pertanian.

Baca juga:

Studi tim biologi Universitas Çukurova mengungkap bahwa mikroplastik yang terakumulasi di tanah dapat masuk ke buah dan sayuran seperti apel, pir, brokoli, dan wortel. Konsumen di Indonesia dan Eropa kini menghadapi risiko paparan melalui makanan, minuman, serta udara. Penelitian kesehatan menunjukkan potensi dampak inflamasi, stres oksidatif, gangguan endokrin, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Baca juga:

Mulai 21 November 2026, Uni Eropa memberlakukan larangan ekspor limbah plastik ke negara non-OECD hingga 21 Mei 2029. Kebijakan ini dapat mengalihkan aliran limbah ke negara OECD lain, termasuk Turki, sehingga risiko pencemaran mikroplastik tetap tinggi. Pemerintah dan produsen diharapkan memperkuat sistem pengelolaan limbah, meningkatkan transparansi rantai pasok, serta mengembangkan alternatif bahan baku yang ramah lingkungan.

Baca juga:

Untuk mengurangi paparan, konsumen disarankan memilih produk dengan kemasan minimal plastik, mencuci pakaian dengan filter serat, serta mendukung inisiatif daur ulang yang berstandar. Upaya kolektif antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci menghentikan siklus mikroplastik dari limbah industri ke meja makan.