Media Kampung – Jepang mengirimkan tim ahli bantuan bencana ke Nepal untuk membantu identifikasi korban banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir Agustus 2026 di wilayah perbatasan Nepal-China. Bencana ini menyebabkan lebih dari 1.200 orang meninggal dunia dan sekitar 5.500 lainnya hilang, termasuk lima warga Jepang dari keluarga Yamamoto asal Osaka.
Banjir bandang yang melanda aliran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli telah berdampak pada hampir 1,6 juta warga Nepal, dengan wilayah Rasuwa dan Nuwakot menjadi yang paling parah terdampak. Pemerintah Nepal bersama tim penyelamat internasional aktif melakukan evakuasi dan pencarian korban yang masih hilang. Sebanyak 21.011 personel keamanan dan tim bantuan dari negara seperti India, China, dan Korea Selatan terlibat dalam operasi penyelamatan tersebut.
Tim ahli dari Jepang, yang terdiri dari tujuh anggota dari Kementerian Luar Negeri, kepolisian, dan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA), tiba pada 4 September 2026 untuk membantu otoritas Nepal dalam identifikasi jenazah yang belum teridentifikasi akibat bencana. Ini menjadi bagian dari dukungan kemanusiaan Jepang kepada Nepal, yang juga melibatkan penilaian kebutuhan medis melalui tim terpisah JICA sejak awal September.
Selain itu, beberapa kisah penyelamatan menonjol muncul dari bencana ini. Dua pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sungai Trishuli berhasil diselamatkan setelah terjebak selama sembilan hari di dalam terowongan proyek PLTA tersebut. Mereka dievakuasi dalam kondisi stabil dan mendapatkan perawatan di rumah sakit Kathmandu. Operasi penyelamatan ini melibatkan penggunaan helikopter, alat berat, serta koordinasi tim penyelamat melalui teknologi komunikasi seperti grup WhatsApp.
Banjir yang dahsyat juga mengakibatkan kerusakan serius pada setidaknya 12 proyek pembangkit listrik tenaga air di Nepal. Ratusan pekerja di sektor ini hilang setelah gelombang air dan lumpur menerjang kawasan proyek tersebut. Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan, dengan operasi udara memainkan peranan penting dalam mengevakuasi warga yang terisolasi.
Kondisi di lapangan sangat menantang, dengan tanah yang mengeras seperti beton dan daerah terdampak yang tertutup lumpur dan reruntuhan. Penemuan jenazah korban tersebar di banyak distrik, dengan proses identifikasi yang berlangsung di 21 rumah sakit di wilayah terdampak. Pemerintah Nepal secara berkala mempublikasikan data korban hilang dan jenazah belum teridentifikasi untuk membantu keluarga melakukan pencocokan identitas.
Bencana ini juga menimbulkan dampak sosial dan infrastruktur yang signifikan. Di beberapa desa, seperti Muakan Petinggi, warga menghadapi kesulitan akses akibat banjir yang membuat jalan menjadi tidak dapat dilalui, serta keterbatasan layanan dasar seperti listrik dan kesehatan. Warga seringkali harus menyewa kendaraan dengan biaya tinggi untuk mendapatkan perawatan medis atau mengangkut hasil usaha mereka.
Upaya diplomasi juga dilakukan oleh pemerintah Jepang melalui komunikasi langsung antara Perdana Menteri Jepang dan Perdana Menteri Nepal, menekankan pentingnya keselamatan warga Jepang yang hilang dan kerja sama maksimal dalam penanganan bencana ini.
Banjir dan longsor di Nepal pada Agustus 2026 menjadi bencana besar yang menuntut respons kemanusiaan dan koordinasi internasional yang intensif untuk meringankan penderitaan masyarakat terdampak serta mempercepat proses pemulihan wilayah tersebut.














Tinggalkan Balasan