Media Kampung – Produksi kelapa sawit Indonesia diperkirakan akan kembali meningkat pada tahun 2026, mencapai 50,31 juta ton minyak sawit. Proyeksi ini menunjukkan potensi pemulihan sektor sawit nasional setelah penurunan produksi pada 2024.

Menurut data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) PT Riset Perkebunan Nusantara, yang dipaparkan dalam Outlook Komoditas Perkebunan 2026 di Bogor pada Oktober 2025, produksi sawit pada 2025 diperkirakan mencapai 49,50 juta ton sebelum meningkat lagi pada 2026. Angka ini merupakan hasil peramalan menggunakan model MODUS.

Baca juga:

Faktor Pendukung Kenaikan Produksi

Salah satu faktor utama yang mendukung peningkatan produksi adalah pemulihan dari dampak kekeringan yang terjadi pada 2023. Kekeringan sebelumnya sempat menekan produktivitas tanaman kelapa sawit, sehingga pemulihan kondisi tanaman diharapkan memberikan kontribusi positif pada produksi periode berikutnya.

Selain itu, realisasi pemupukan yang membaik seiring dengan pemulihan harga pupuk juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan dan produktivitas tanaman sawit.

Baca juga:

Tantangan Umur Tanaman dan Peremajaan Kebun

Meski terdapat prospek peningkatan produksi, sektor sawit nasional menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait komposisi tanaman yang mulai menua. Rata-rata umur tanaman yang semakin tua dapat menurunkan produktivitas jika tidak diikuti dengan program peremajaan kebun yang tepat waktu.

Data menunjukkan bahwa sejak 2016 hingga 2025, realisasi peremajaan telah mencapai sekitar 384.618 hektare yang melibatkan 169.494 pekebun dengan dana sekitar Rp10,86 triliun hingga Mei 2025. Namun, proses peremajaan masih menghadapi hambatan sosial ekonomi, administratif, teknis, serta pembiayaan yang memperlambat realisasi program tersebut.

Baca juga:

Pentingnya Produktivitas Tanaman

Peningkatan produksi sawit tidak dapat hanya mengandalkan perluasan lahan. Produktivitas tanaman yang ada menjadi kunci untuk mencapai target produksi nasional. Keterlambatan peremajaan berpotensi menyebabkan penurunan produktivitas yang berdampak pada ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak sawit nasional.

Oleh karena itu, percepatan program replanting dan peningkatan manajemen kebun menjadi prioritas untuk memastikan keberlanjutan produksi sawit Indonesia di masa depan.