Media Kampung – Banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal dan Cina akibat runtuhnya gletser telah menyebabkan ratusan kematian dan ribuan orang hilang, termasuk warga negara India dari Andhra Pradesh (AP). Pemerintah setempat dan berbagai negara tengah berupaya melakukan evakuasi dan pemulihan kondisi pasca-bencana.
Hingga saat ini, tujuh warga Andhra Pradesh masih belum ditemukan setelah banjir bandang tersebut. Sebanyak 34 warga lainnya yang sempat terjebak di Nepal telah berhasil dihubungi dan dipastikan dalam keadaan aman. Gubernur Andhra Pradesh, N. Chandrababu Naidu, menginstruksikan agar upaya pencarian dan evakuasi terus ditingkatkan dengan koordinasi penuh antara pemerintah pusat, misi diplomatik India, dan instansi terkait. Sebuah pos komando telah didirikan di AP Bhavan, New Delhi, guna memonitor situasi dan memfasilitasi bantuan.
Banjir ini terjadi setelah runtuhnya sebuah gletser di kawasan Himalaya yang menyebabkan aliran air, lumpur, dan material batuan menerjang lembah di perbatasan Nepal-Tibet. Peristiwa ini menghancurkan infrastruktur penting, termasuk sembilan pembangkit listrik tenaga air yang menyebabkan sekitar 8% kapasitas pembangkit listrik Nepal terganggu. Kerusakan ini berdampak pada pasokan listrik domestik dan memperburuk krisis energi di negara tersebut.
Untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik, Nepal berencana untuk mengimpor listrik dari India sementara waktu. Biasanya, Nepal mengekspor listrik hidroelektrik berlebih ke India selama musim hujan dan mengimpor listrik pada musim dingin ketika aliran sungai membeku. Namun, bencana ini mengancam kelangsungan perdagangan listrik tersebut.
Selain India, bantuan internasional juga mengalir dari berbagai negara, termasuk Australia yang telah mengalokasikan dana kemanusiaan sebesar 5 juta dolar untuk mendukung upaya pemulihan di wilayah Himalaya. Pihak berwenang di Australia melaporkan beberapa warga negaranya masih hilang akibat banjir ini.
Sementara itu, komunitas diaspora Nepal di Selandia Baru juga menggalang donasi dan bantuan darurat untuk mendukung pemerintah Nepal dalam menangani dampak bencana. Data menunjukkan lebih dari 1.000 orang hilang, termasuk warga asing dan pendaki yang berada di jalur trekking yang menghubungkan Kathmandu dan Lhasa.
Situasi banjir bandang ini menimbulkan keprihatinan serius terkait pembangunan infrastruktur energi besar di wilayah Himalaya yang rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Kerusakan fasilitas pembangkit listrik tenaga air dan potensi risiko bencana serupa di masa depan memicu evaluasi ulang terhadap proyek-proyek energi di daerah tersebut.
Pemerintah Nepal bersama mitra internasional terus berupaya melakukan pencarian korban hilang dan pemulihan fasilitas yang terdampak. Koordinasi lintas negara dan dukungan bantuan kemanusiaan menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis ini.













Tinggalkan Balasan