Media Kampung, Banyuwangi – Tradisi Ancakan menjadi cara khas yang dilakukan masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga mengandung nilai sosial dan filosofi yang mendalam bagi warga setempat.
Setiap tahun, pada peringatan Maulid Nabi, masyarakat Desa Kemiren menggelar tasyakuran di Masjid Nurul Huda dengan menyajikan makanan dalam ancak, yaitu wadah berbahan pelepah pisang yang berisi nasi lengkap dengan lauk pauk. Namun, yang membedakan tradisi ini adalah aturan tak tertulis di mana warga tidak diperkenankan memakan makanan dari ancak yang dibawanya sendiri, melainkan harus saling bertukar dengan tetangga. Praktik ini menjadi simbol solidaritas dan kerelaan menerima rezeki secara ikhlas.
Makna dan Simbolisme Tradisi Ancakan
Ancakan berasal dari kata ‘ancak’ yang berarti wadah makanan yang terbuat dari pelepah pisang. Dalam tradisi ini, setiap warga membawa ancak berisi makanan lengkap dan telur rebus yang dihias dengan bambu serta kertas warna-warni, dikenal sebagai endog-endogan dan jodang endog-endogan. Makanan dan hiasan ini ditata di teras masjid sebagai bagian dari rangkaian acara peringatan Maulid.
Tradisi Ancakan bukan hanya soal makan bersama, melainkan juga mengandung filosofi luhur tentang kebersamaan dan rasa syukur. Dengan saling bertukar ancak, masyarakat menunjukkan solidaritas dan saling menghargai antarwarga. Hal ini memperkuat ikatan sosial dan menciptakan suasana guyub di antara masyarakat Desa Kemiren.
Rangkaian Acara Peringatan Maulid
Peringatan Maulid dengan Tradisi Ancakan diawali dengan tasyakuran dan penyusunan ancak di Masjid Nurul Huda. Selanjutnya, warga bersama-sama melantunkan selawat dan membaca kitab Barzanji sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Acara ini dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh tokoh agama setempat, mengupas keteladanan budi pekerti dan akhlak mulia Nabi Muhammad.
Antusiasme Warga dan Pelestarian Budaya
Menurut Mohammad Edy Saputro, salah satu warga Desa Kemiren, tradisi ini menjadi momen penting yang dinantikan setiap tahun. Warga sangat antusias dan bersemangat mengikuti rangkaian acara peringatan Maulid dengan Tradisi Ancakan, yang mempererat rasa kebersamaan dan keimanan.
Tradisi Ancakan yang masih kuat terjaga di desa-desa Banyuwangi menjadi identitas kultural yang tak terpisahkan dari peringatan Maulid. Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan komitmen masyarakat dalam melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai sosial dan keagamaan.













Tinggalkan Balasan