Media Kampung – Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat telah dikonfirmasi oleh BMKG pada pertengahan Agustus 2026, menyebabkan kekeringan ekstrem di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Nusa Tenggara yang kini berstatus awas. Lonjakan suhu permukaan laut mencapai nilai SSTA 2,99, memicu musim kemarau meluas hingga 79,9% wilayah Indonesia.
Situasi Atmosfer dan Dampaknya
BMKG melaporkan bahwa hampir 90,29% wilayah Indonesia mengalami curah hujan jauh di bawah normal akibat kombinasi fenomena El Nino dan Indeks Dipole Mode Samudra Hindia (IOD) yang positif. IOD positif dengan nilai 0,394 memperburuk kelangkaan pembentukan awan hujan di kawasan selatan khatulistiwa, memperpanjang masa kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan meteorologis.
Peningkatan SSTA di region Nino3.4 yang mencapai 2,99 menandakan El Nino sangat kuat, meningkat signifikan dari Juli 2026 yang tercatat 2,20. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar Pulau Jawa dan Nusa Tenggara masuk dalam status awas kekeringan meteorologis, sedangkan beberapa wilayah Kalimantan Selatan dan Maluku juga terdampak.
Wilayah Terdampak dan Status Risiko Kekeringan
- Status Awas (Tinggi): Sebagian besar Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Timur, sebagian kecil Kalimantan Selatan, dan Maluku.
- Status Siaga (Sedang): Wilayah selatan Sumatra, sebagian Jawa bagian barat dan tengah, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi bagian utara dan selatan, serta sebagian besar Kepulauan Maluku dan Papua bagian selatan.
- Status Waspada (Rendah): Beberapa wilayah di Kalimantan bagian tengah dan utara, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian selatan.
Proyeksi Curah Hujan dan Durasi Musim Kemarau
Proyeksi BMKG menunjukkan bahwa tren kekeringan ekstrem akan berlangsung hingga November 2026, dengan curah hujan sangat rendah di banyak wilayah termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Curah hujan diperkirakan mulai meningkat secara merata pada Desember 2026 hingga Februari 2027, menandai kembalinya musim hujan.
Rincian Proyeksi Curah Hujan
- Agustus III – September II 2026: Curah hujan rendah hingga menengah, 0-150 mm per dasarian, dengan banyak wilayah mengalami hujan amat rendah (50 mm per dasarian).
- September 2026: Puncak kekeringan dengan curah hujan sangat rendah, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian besar wilayah lain.
- Oktober 2026: Wilayah kekeringan mulai menyempit, masih meliputi beberapa daerah di Sumsel, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua.
- November 2026: Fase transisi, area dengan curah hujan rendah hanya tersisa di beberapa wilayah seperti Madura, NTB bagian timur, NTT, dan Papua Selatan.
Antisipasi dan Mitigasi
Dalam menghadapi kekeringan ekstrem akibat El Nino, BMKG dan pemerintah daerah mengimbau berbagai langkah mitigasi, terutama di sektor pertanian dan pengelolaan air bersih. Petani dianjurkan menyesuaikan pola tanam dengan komoditas yang hemat air atau menunda masa tanam di wilayah dengan status awas. Pemerintah diharapkan mengatur distribusi air bersih secara berkala di titik-titik rawan kekeringan.
Selain itu, antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi penting, dengan imbauan tegas agar pembukaan lahan dengan cara membakar dihentikan total, khususnya di Kalimantan dan Sumatra bagian selatan.
Kesadaran dan Peran Masyarakat
Penting bagi masyarakat untuk mengikuti arahan dari BMKG dan pemerintah daerah dalam menghadapi musim kemarau panjang ini. Pengelolaan sumber daya air yang bijak dan pengurangan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran dapat membantu mengurangi dampak negatif kekeringan ekstrem.
Dengan pemahaman yang baik terhadap fenomena El Nino dan dampaknya, diharapkan seluruh pihak dapat berkolaborasi menjaga keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan di tengah tantangan cuaca ekstrem saat ini.















Tinggalkan Balasan