Media Kampung – Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami fluktuasi seiring dengan wacana pemangkasan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan dilakukan pemerintah pada tahun 2027. Kebijakan ini menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi masyarakat pengguna BBM bersubsidi, khususnya jenis Pertalite yang digunakan secara luas untuk aktivitas sehari-hari.

Pergerakan rupiah pada perdagangan terakhir menunjukkan pelemahan di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS, meskipun sebelumnya sempat menguat. Sentimen pasar positif muncul dari rencana pemerintah memotong kuota subsidi BBM hingga 58,5 persen sebagai langkah pengendalian subsidi yang diharapkan dapat mengurangi beban anggaran negara.

Baca juga:

Namun, pengurangan subsidi ini juga dihadapkan pada asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar USD 75 per barel pada 2027, lebih rendah dibandingkan harga minyak global saat ini yang mencapai sekitar USD 83 per barel. Fluktuasi harga minyak dunia ini turut berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah dan biaya transportasi serta mobilitas masyarakat yang bergantung pada BBM subsidi.

Di Jawa Timur, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih bertahan pada harga yang sama sejak penyesuaian terakhir pada Agustus 2026. Sementara itu, beberapa produk BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo mengalami penurunan harga. Penyesuaian ini mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah, sekaligus tetap menjaga daya beli masyarakat dan ketersediaan pasokan BBM nasional.

Baca juga:

Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan menegaskan pentingnya mitigasi yang terukur dalam menghadapi potensi kenaikan harga BBM akibat gejolak geopolitik, khususnya konflik AS-Iran yang dapat mempengaruhi harga minyak dan biaya logistik. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak mengambil keputusan kenaikan harga BBM subsidi secara mendadak dan memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan impor.

Dampak kenaikan harga minyak juga berimbas pada tekanan terhadap anggaran negara, subsidi energi, serta harga pangan yang bisa meningkat seiring naiknya biaya produksi dan distribusi. Oleh karena itu, penguatan cadangan pangan, stabilisasi nilai tukar, dan dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi langkah strategis yang harus dilakukan.

Baca juga:

Selain itu, pengembangan motor listrik nasional (Molinas) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi ketergantungan energi fosil dan memperkuat kemandirian teknologi. Program ini diharapkan dapat bersaing dengan produk motor listrik impor dari China dengan menawarkan harga kompetitif dan layanan purnajual yang lebih terjamin, serta menyesuaikan spesifikasi kendaraan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Keseluruhan kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah dalam mengelola subsidi BBM secara berkelanjutan dan menjaga stabilitas ekonomi makro, khususnya nilai tukar rupiah, di tengah tantangan harga minyak global dan dinamika geopolitik.