Media Kampung, Nusa Tenggara Timur – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu dini hari, menimbulkan duka mendalam. Hingga Minggu, tercatat 47 orang meninggal dunia dan lebih dari 9.200 warga mengungsi akibat dampak gempa dahsyat tersebut.

Fakta Utama Korban dan Pengungsi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban tewas mencapai 47 orang, dengan 101 orang mengalami luka-luka. Pengungsi tersebar di berbagai lokasi, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Sikka sebanyak 3.356 jiwa dan Kabupaten Manggarai sebanyak 2.078 jiwa.

Baca juga:

Di Kabupaten Sikka, sebanyak 1.356 warga mengungsi di GOR Samador, sementara sisanya bertahan di 10 titik pengungsian mandiri. Selain itu, ratusan warga juga mengungsi di wilayah Nagekeo, Kota Bima (NTB), dan Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan).

Penyebaran Korban Jiwa

  • Manggarai: 23 jiwa
  • Manggarai Timur: 17 jiwa
  • Sikka: 4 jiwa
  • Manggarai Barat: 1 jiwa
  • Ende: 1 jiwa
  • Nagekeo: 1 jiwa

Dampak Kerusakan dan Kebutuhan Mendesak

Gempa ini juga mengakibatkan kerusakan berat pada pemukiman dan fasilitas publik. Tercatat 914 rumah mengalami kerusakan berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada 93 sekolah, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintahan di wilayah terdampak.

Baca juga:

Berdasarkan laporan BNPB, para penyintas di Manggarai sangat membutuhkan bantuan darurat meliputi:

  • Tenda darurat
  • 30 ton beras
  • Obat-obatan
  • 1.000 selimut
  • Velbed dan tikar
  • Pasokan air bersih
  • Genset untuk penerangan

Upaya Penanganan dan Fokus Bantuan

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa pemenuhan hak dasar dan kebutuhan logistik pengungsi menjadi prioritas utama dalam masa tanggap darurat ini. Koordinasi penanganan terus dilakukan untuk memastikan bantuan dapat segera tersalurkan di lokasi-lokasi pengungsian.

Baca juga:

Situasi ini menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat dalam menghadapi bencana alam agar dampak kerugian dapat diminimalisir serta membantu percepatan proses pemulihan di wilayah terdampak.