Media Kampung, Jawa Timur – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah berlangsung selama tujuh hari tanpa tanda-tanda mereda. Api yang dipicu angin kencang terus meluas dan telah membakar sekitar 176 hektare, terutama di wilayah Kabupaten Probolinggo.
Situasi yang semakin genting ini memaksa Balai Besar TNBTS untuk menutup seluruh akses wisata Gunung Bromo sejak Sabtu malam pukul 22.00 WIB. Penutupan tersebut berlaku di lima pintu masuk utama, yaitu Cemorolawang (Probolinggo), Wonokitri (Pasuruan), Jemplang dan Coban Trisula (Malang), serta Senduro (Lumajang).
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa penutupan ini dilakukan demi efektivitas pemadaman kebakaran sekaligus menjaga keselamatan pengunjung dan pelaku usaha jasa wisata. Ia mengimbau agar semua aktivitas wisata dihentikan sementara waktu untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Perkembangan Kebakaran dan Dampaknya
Api yang berkobar di kawasan Bromo-Semeru telah merambat hingga ke tebing sekitar Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dan bahkan mencapai area Gunung Kursi yang masih termasuk dalam kawasan TNBTS. Kondisi ini memperlihatkan luasnya area terdampak dan kesulitan dalam pengendalian api akibat angin kencang.
Penutupan akses wisata menjadi langkah penting untuk mendukung upaya pemadaman yang dilakukan oleh petugas serta menjaga keselamatan masyarakat dan wisatawan. Selain itu, penutupan ini juga bertujuan untuk mencegah potensi kecelakaan atau gangguan kesehatan akibat asap dan kebakaran.
Konteks dan Pentingnya Penutupan Kawasan
Kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah serius yang tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga sektor pariwisata dan ekonomi lokal. TNBTS sebagai destinasi wisata andalan di Jawa Timur harus memastikan keselamatan pengunjung dan kelestarian alam.
Penutupan kawasan ini juga menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan mitigasi dan pencegahan kebakaran di masa mendatang. Koordinasi antara berbagai pihak sangat diperlukan agar bencana serupa dapat diminimalkan.
Imbauan dan Tindakan Selanjutnya
Rudijanta mengimbau kepada seluruh pelaku usaha jasa wisata dan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di kawasan TNBTS selama masa penutupan. Hal ini demi keselamatan bersama dan mendukung kelancaran proses pemadaman.
Petugas dan pemerintah terus memantau perkembangan kebakaran serta melakukan upaya maksimal untuk mengendalikan api. Masyarakat di sekitar kawasan juga diharapkan tetap waspada dan mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang.
Situasi ini menjadi pengingat pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian alam dan keselamatan bersama di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.













Tinggalkan Balasan