Jenni Stancombe, ibu dari Elsie Dot Stancombe yang menjadi korban dalam serangan mematikan di Southport pada 2024, berbicara terbuka tentang dampak tragedi tersebut terhadap keluarga, terutama putri bungsunya yang kini berusia lima tahun, Rosie. Dalam wawancara dengan podcast Happy Mum yang dipandu Giovanna Fletcher, Jenni mengungkapkan bagaimana keluarga berusaha memberikan kehidupan normal bagi Rosie di tengah duka yang mendalam.
Serangan yang terjadi pada Juli 2024 itu menewaskan tiga anak perempuan, termasuk Elsie yang saat itu berusia tujuh tahun. Pelaku, yang saat itu berusia 17 tahun, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan minimum 52 tahun pada Januari 2025. Sebuah penyelidikan resmi kemudian menyimpulkan bahwa serangan tersebut seharusnya dapat dicegah jika pihak berwenang mengambil langkah yang tepat.
Dampak pada Rosie
Jenni menceritakan bahwa Rosie, meskipun masih sangat muda, menunjukkan tanda-tanda trauma. Misalnya, ia tiba-tiba tidak menyukai lagu Taylor Swift. “Ketika Taylor Swift diputar, dia mematikannya. Dia tidak suka Taylor Swift lagi. Saya tidak pernah mengatakan apa pun padanya, dan saya bertanya-tanya bagaimana dia tahu,” ujar Jenni.
Dua hari setelah serangan, Jenni dan suaminya, David (yang akrab disapa Day), harus menyampaikan kabar buruk kepada Rosie. Mereka mengatakan bahwa Elsie telah pergi ke surga bersama Nenek Tina. Rosie bertanya, “Kenapa?” dan Jenni menjawab, “Seorang pria jahat menyakitinya, tapi itu bukan salah Elsie. Jangan pernah berpikir dia melakukan kesalahan, karena dia tidak melakukan kesalahan.”
Janji untuk Masa Kecil yang Normal
Meskipun trauma masih membekas, Jenni dan David berkomitmen untuk memberikan Rosie masa kecil yang normal. “Saya dan Day berkomitmen untuk itu, bahwa kami harus berusaha memberinya kehidupan yang senormal mungkin,” kata Jenni.
Mengenang Elsie, Jenni menggambarkannya sebagai anak yang cerdas secara emosional dan komunikatif. “Saya dulu bilang saya memenangkan lotre kehidupan. Saya punya dua anak perempuan yang cantik dan sehat. Saya punya pekerjaan yang baik, saya menikmati pekerjaan saya. Saya punya suami terbaik,” ujarnya sambil menangis.
Kisah keluarga Stancombe menjadi pengingat akan dampak kekerasan yang berkepanjangan, serta kekuatan cinta dan tekad untuk tetap melangkah maju.














Tinggalkan Balasan