Media Kampung – Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Sampang menegaskan bahwa harga tembakau di tingkat petani tidak semata-mata mengacu pada Break Even Point (BEP), tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi pasar dan kemampuan finansial perusahaan pembeli. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Hortikultura Disperta Sampang, Nurdin, pada Senin, 20 Juli 2026.

Menurut Nurdin, ketika produksi tembakau melimpah namun permintaan pasar menurun, perusahaan pembeli belum tentu mampu membeli dengan harga sesuai BEP yang telah dihitung. “Kalau produksi banyak kemudian permintaannya sedikit, perusahaan bisa saja tidak mampu membeli sesuai angka BEP karena kemampuan modal mereka juga terbatas,” ujar Nurdin.

Baca juga:

Meski demikian, BEP tetap menjadi pedoman penting bagi petani untuk mengetahui batas minimal harga jual agar usaha tani tidak merugi. Dengan memahami BEP, petani dapat menghitung biaya produksi dan mengevaluasi apakah harga yang diterima sudah memberikan keuntungan.

Harapan Petani Tembakau

Di sisi lain, petani tembakau menyuarakan harapannya. Zanullah, petani asal Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, mengungkapkan bahwa biaya produksi yang dikeluarkannya mencapai puluhan juta rupiah. Ia berharap harga tembakau pada musim panen tahun ini lebih tinggi agar biaya produksi dapat tertutupi dan petani tidak merugi.

Baca juga:

“Modal yang kami keluarkan sangat besar, mulai dari pengolahan lahan, perawatan hingga panen. Kami berharap harga tembakau tahun ini tinggi sehingga biaya produksi bisa tertutupi dan petani tidak merugi,” kata Zanullah.

Ia juga berharap perusahaan pembeli turut mempertimbangkan besarnya biaya produksi yang ditanggung petani dalam menentukan harga pembelian, sehingga usaha tani tembakau tetap memberikan keuntungan dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Baca juga:

Konteks Lebih Luas

Sampang merupakan salah satu sentra produksi tembakau di Jawa Timur. Fluktuasi harga tembakau kerap menjadi masalah bagi petani, terutama ketika harga jatuh di bawah biaya produksi. Peran Disperta dalam memberikan pemahaman tentang BEP dan dinamika pasar diharapkan dapat membantu petani dalam mengambil keputusan yang lebih bijak.

Ke depan, diperlukan sinergi antara petani, pemerintah, dan perusahaan pembeli untuk menciptakan mekanisme harga yang adil dan berkelanjutan. Hal ini penting tidak hanya untuk kesejahteraan petani, tetapi juga untuk menjaga stabilitas pasokan tembakau nasional.