Media Kampung, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,39 persen dalam sepekan, dari Rp17.995 pada Senin (6/7/2026) menjadi Rp18.065 pada Jumat (10/7/2026) di pasar spot. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuabi mengatakan bahwa salah satu faktor domestik yang membebani rupiah adalah laporan terbaru Fitch Ratings. Lembaga pemeringkat internasional itu memberikan pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, terutama aspek kepercayaan investor yang melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi. Fitch memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, serta memperbesar risiko penurunan peringkat utang Indonesia yang saat ini masih di level BBB dengan prospek negatif.
Selain itu, pasar juga gelisah setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun. Defisit perdagangan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dari sisi eksternal, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kenaikan harga minyak dunia turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang didorong oleh energi, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga lebih agresif. Berdasarkan CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Fed sebesar 63 persen pada pertemuan September 2026.
Meskipun demikian, pada perdagangan Jumat (10/7) sore, rupiah sempat menguat 0,35 persen ke Rp18.065 per dolar AS, sejalan dengan penguatan mayoritas mata uang Asia seperti yuan China, ringgit Malaysia, dan yen Jepang. Penguatan ini didukung oleh pernyataan International Monetary Fund (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026.
Pelemahan rupiah juga berdampak pada sektor riil. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja memprediksi harga barang di pusat perbelanjaan akan naik pada kuartal IV-2026 karena biaya produksi yang lebih mahal akibat fluktuasi kurs, kenaikan biaya logistik, dan energi. Ia mengingatkan bahwa daya beli masyarakat kelas menengah bawah akan semakin tertekan.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa realisasi belanja subsidi dan kompensasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp233 triliun, naik 44,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah.























Tinggalkan Balasan