Media Kampung, Los Angeles — Fabián Ruiz menjadi pahlawan Spanyol saat mencetak gol pembuka dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Belgia di Stadion SoFi, Los Angeles, Jumat (10/7/2026) waktu setempat. Gol tersebut tidak hanya membawa Spanyol unggul 1-0, tetapi juga menjadi simbol perjuangan panjang sang gelandang dan keluarganya.

Lahir di Los Palacios y Villafranca, Sevilla, pada 3 April 1996, Fabián tumbuh dalam keluarga sederhana. Setelah orang tuanya bercerai saat ia berusia 12 tahun, ibunya, Chari Peña, membesarkan tiga anak seorang diri dengan bekerja sebagai petugas kebersihan di stadion Real Betis — termasuk membersihkan vestuaris yang digunakan Fabián.

“Awalnya saya agak malu karena ibu membersihkan vestuaris Betis dan saya berganti pakaian di sana. Tapi kemudian justru sebaliknya. Saya merasa bangga melihat ibu bekerja di sana dan melakukan segalanya untuk kami,” kata Fabián dalam wawancara dengan ABC.

Setelah bergabung dengan Napoli pada 2018, kondisi keuangan keluarga membaik. Fabián segera meminta ibunya berhenti bekerja. “Saya beruntung bisa menyuruhnya berhenti bekerja dan menghidupi keluarga. Tanpa ragu saya lakukan itu. Awalnya berat karena itu rutinitasnya, tapi kemudian dia menikmati bisa datang ke Napoli, melihat saya bermain, bersama saya dan saudara-saudara saya,” tuturnya.

Kini, sebagai pemain Paris Saint-Germain (PSG), Fabián memastikan keluarganya tidak kekurangan. “Keluarga saya tidak akan kekurangan apa pun. Mereka semua punya rumah dan mobil. Itu yang terpenting bagi saya. Selama saya secara ekonomi baik, mereka tidak akan kekurangan,” ujarnya.

Kisah Fabián juga sempat menjadi sorotan karena kontroversi subtitle. Dalam dokumenter RTVE berjudul “Denominación de Origen”, ibunya diberi subtitle karena logat Andalusia, sementara Fabián tidak. Presiden RTVE, José Pablo López, meminta maaf secara resmi dan menyebut logat Andalusia sebagai kekayaan budaya.

Fabián menanggapi dengan ironi: “Terakhir, jika ada yang tidak mengerti wawancara saya, kalian bisa memasang subtitle untuk logat Andalusia saya, kalau mau.”

Gol Fabián ke gawang Belgia menjadi bukti perjalanan panjang dari anak seorang petugas kebersihan yang kini bersinar di panggung dunia.