Media Kampung, Palembang, Sumatera Selatan — Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026 memicu migrasi besar-besaran konsumen ke Pertalite bersubsidi. Akibatnya, antrean panjang terjadi di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Selatan, Karanganyar (Jawa Tengah), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengaku malu karena daerahnya penghasil minyak namun warganya harus mengantre BBM hingga berkilometer. Ia memimpin rapat bersama Pertamina Patra Niaga, BPH Migas, Hiswana Migas, dan aparat penegak hukum untuk membenahi tata kelola distribusi BBM bersubsidi. Herman menegaskan rapat tersebut bukan untuk mencari pihak yang salah, melainkan menyusun langkah konkret.

Di Karanganyar, seorang mahasiswi bernama Selfi memilih membeli Pertalite di Pertamini dengan harga sedikit lebih mahal untuk menghindari antrean panjang di SPBU. Ia hanya membeli Rp15.000 per kali isi, tidak full tank, demi menyesuaikan anggaran.

Sementara itu, di Kupang, pedagang eceran Pertalite bernama Ayu mengaku harus mengantre hingga lima jam di SPBU untuk mendapatkan pasokan. Ia mengisi satu jeriken besar senilai Rp400.000 lalu menjual eceran Rp12.000 per botol. Ayu belum menaikkan harga meski biaya operasional membengkak.

Pertamina juga mengingatkan bahaya mencampur Pertalite (RON 90) dengan Pertamax Turbo (RON 98) untuk mendapatkan RON 92. Menurut Pertamina, asumsi bahwa campuran 75% RON 90 dan 25% RON 98 menghasilkan RON 92 yang stabil adalah kekeliruan teknis. Kedua jenis BBM memiliki perbedaan standar emisi dan kecocokan mekanis.