Media Kampung, Tanjungbalai, Sumatera Utara — Pabrik penggilingan padi di Kabupaten Asahan terancam menghentikan produksi akibat kelangkaan gabah dan tingginya harga bahan baku. Akibatnya, sejumlah merek beras premium mulai sulit ditemukan di pasaran Tanjungbalai dalam beberapa hari terakhir.

Management Representative PT Jampalan Baru, Khairani, mengatakan produksi perusahaannya menurun drastis karena pasokan gabah dari petani terus berkurang. “Gabah susah. Tahun lalu kami masih mengambil dari Aceh, tetapi tahun ini di sana juga sudah habis karena mereka juga mengalami kekurangan,” ujarnya, Senin (6/7/2026). Stok beras di gudang diperkirakan hanya cukup untuk dua hingga tiga bulan ke depan jika pasokan tidak segera membaik.

Pemilik Kilang Padi AA, Ahun, mengaku produksi pabriknya anjlok hingga 80 persen dibanding tahun sebelumnya. “Sebulan ini hancur, gabah tidak ada. Saat panen raya kemarin kami tidak berani membeli banyak karena harganya sudah tinggi. Ternyata sekarang gabah benar-benar sulit didapat,” katanya. Kini ia harus mencari gabah hingga ke Kabupaten Tapanuli Utara dengan harga jauh lebih mahal, sehingga produksi terpaksa dikurangi. Kilang Padi AA juga menghentikan sementara produksi beras kemasan 5 kilogram karena keterbatasan bahan baku.

Menanggapi kondisi tersebut, Asisten II Pemerintah Kota Tanjungbalai, Tajul Abrar, mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pemilik kilang padi untuk memantau perkembangan pasokan. “Memang persoalannya berada di tingkat petani. Pasokan gabah di Sumatera Utara saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan, termasuk untuk wilayah Kabupaten Asahan. Kami akan terus melakukan monitoring dan mencari solusi,” ujarnya. Pemerintah berharap ketersediaan gabah dapat kembali normal pada musim panen berikutnya agar produksi beras meningkat dan pasokan di pasaran terjaga.