Media Kampung, Bandarlampung – Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati masih menjadi penyumbang terbesar ekspor Provinsi Lampung sepanjang Januari hingga Mei 2026. Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai US$1,026 miliar atau sekitar 43,46 persen dari total ekspor Lampung.

Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel Adi Prakasa, menjelaskan struktur ekspor Lampung masih ditopang oleh komoditas berbasis perkebunan. Selain lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral serta kopi, teh, dan rempah-rempah juga memberikan kontribusi besar terhadap kinerja ekspor daerah.

“Selama Januari hingga Mei 2026, komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati menjadi penyumbang terbesar ekspor Provinsi Lampung dengan nilai US$1,026 miliar atau 43,46 persen dari total ekspor,” ujar M. Sabiel Adi Prakasa, Senin 6 Juli 2026.

BPS mencatat bahan bakar mineral menjadi komoditas ekspor terbesar kedua dengan nilai US$386,32 juta atau 16,35 persen dari total ekspor. Sementara komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah berada di posisi ketiga dengan nilai US$313,02 juta atau 13,25 persen.

Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar Lampung selama Januari hingga Mei 2026 dengan nilai US$344,26 juta. Posisi berikutnya ditempati Tiongkok sebesar US$304,23 juta dan Belanda senilai US$224,70 juta.

Sabiel menjelaskan sebagian besar ekspor Lampung dikirim melalui pelabuhan yang berada di wilayah provinsi. Selama Januari hingga Mei 2026, sekitar 82,20 persen nilai ekspor diberangkatkan melalui pelabuhan di Lampung.

Data tersebut menunjukkan sektor perkebunan masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Provinsi Lampung. BPS Provinsi Lampung akan terus memantau perkembangan ekspor sebagai salah satu indikator aktivitas ekonomi daerah.