Media Kampung, Menyusui adalah proses belajar yang membutuhkan waktu dan kesabaran, baik bagi ibu maupun bayi. Sayangnya, tekanan sosial dari lingkungan sekitar kerap menjadi penghambat utama dalam proses alami ini. Praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama mengingatkan bahwa fase awal menyusui seringkali diwarnai kekhawatiran yang tidak perlu, terutama ketika ASI belum keluar deras di hari-hari pertama.
Menurut dr. Ngabila, fenomena ASI belum keluar segera setelah melahirkan adalah hal yang wajar. Tubuh bayi yang baru lahir pun telah dibekali cadangan energi alami berupa lemak coklat. “Bayi baru lahir 3 hari tidak minum satu tetes air susu pun itu bisa hidup karena dia masih punya lemak coklat,” jelas dr. Ngabila dalam acara podcast Special Interview di kanal Youtube Cumicumi.
Sayangnya, masa adaptasi ini seringkali terlewati karena desakan orang sekitar. Komentar seperti “bayi sedang haus” atau anjuran untuk memberikan susu formula begitu bayi menangis menjadi tekanan tersendiri bagi ibu muda. Padahal, tangisan bayi di awal kehidupannya tidak selalu menandakan lapar, melainkan bagian dari proses adaptasi. “Kadang-kadang melihat bayi nangis, padahal dia masih belajar berusaha baru menjadi ibu, orang udah pada bisik-bisik, kasih aja lah susu formula,” ungkap dr. Ngabila.
Tekanan yang salah ini dapat membuat ibu terbawa keadaan dan akhirnya memberikan dot atau susu formula. Akibatnya, bayi menjadi terbiasa dengan dot yang lebih mudah diisap dibanding puting payudara. “Dia malas, dia tidak belajar, tidak rangsang, padahal menyusui itu adalah proses belajar,” tegas dr. Ngabila. Proses belajar menyusui pun terhambat karena bayi enggan menyusu langsung dan ibu kehilangan kesempatan untuk merangsang produksi ASI.
Oleh karena itu, penting bagi ibu baru untuk tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial. Dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan agar proses menyusui dapat berjalan lancar. Menyusui adalah keterampilan yang dipelajari, bukan insting yang langsung sempurna. Dengan pemahaman yang benar dan lingkungan yang suportif, ibu dan bayi dapat melewati masa adaptasi ini dengan baik.






















Tinggalkan Balasan