Media Kampung – Lebih dari lima puluh santri di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan MBG dan harus dirujuk ke rumah sakit pada Minggu, 19 April 2026.
Insiden tersebut terjadi setelah para santri mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Pilangwetan pada Sabtu, 18 April 2026.
Pengasuh Pondok Pesantren Asnawiyah, Cholilullah, melaporkan bahwa pada Minggu malam jumlah korban yang dirawat di rumah sakit meningkat menjadi tujuh orang, menambah total 35 orang yang dirujuk sejak pagi.
Data dari Puskesmas Kebonagung mencatat 97 kasus, dengan 67 orang menjalani perawatan rawat jalan dan 24 orang dirujuk ke RSU PKU Muhammadiyah Gubug.
Koordinator Wilayah SPPG Demak, Ali Muzani, menyatakan bahwa 550 porsi MBG didistribusikan ke empat lembaga pendidikan, dan 110 orang melaporkan gejala keracunan.
Menurut Muzani, sebanyak 95 orang di antaranya akhirnya dirawat inap di rumah sakit setempat.
Kepala Puskesmas Kebonagung, Arief Setiawan, menegaskan bahwa lima pasien yang sempat dirawat di puskesmas kini sudah dipulangkan setelah kondisi stabil.
Ia menambahkan bahwa puluhan santri lainnya telah dirujuk ke rumah sakit lain, termasuk RS PKU Gubug, Rumah Sakit Getas Pendowo, dan RS Sultan Fatah Karangawen.
Data rinci menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bustanul Quran menelan 68 santri, dengan 23 dirujuk ke PKU Gubug dan 12 ke Getas Pendowo.
Pondok Pesantren Asnawiyah melaporkan 97 santri terdampak, dimana 67 menjalani rawat jalan, 24 dirujuk ke Getas Pendowo, dan enam ke PKU Gubuk.
Selain itu, Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin mencatat sepuluh korban, sementara Pondok Pesantren Al Maarif melaporkan lima kasus dengan satu dirujuk ke PKU Gubuk.
Kelompok B3 (ibu hamil, ibu menyusui, balita) juga terlibat, dengan lima orang yang sebagian besar dirawat di puskesmas.
Cholilullah menuturkan bahwa gejala awal meliputi muntah, pusing, dan sesak napas, yang kemudian memaksa beberapa santri dilarikan ke rumah sakit.
Ia menambahkan bahwa tim medis pondok segera menghubungi Puskesmas Kebonagung dan mengumpulkan sisa makanan untuk dijadikan sampel.
Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi Dinkes Demak, Darto Wahab, menyatakan bahwa sampel muntahan nasi goreng dan sisa susu kotak telah diterima untuk analisis laboratorium.
Darto menegaskan bahwa hasil uji laboratorium masih dalam proses, sementara tim kesehatan terus melakukan observasi terhadap para korban.
Pihak SPPG menunggu hasil pengujian untuk menentukan penyebab pasti, termasuk kemungkinan kontaminasi bahan baku atau proses penyajian.
Seluruh instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Demak, telah membentuk tim khusus untuk menelusuri alur distribusi MBG dan memastikan tidak ada kasus serupa di masa mendatang.
Sejumlah media melaporkan bahwa kasus ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua santri dan masyarakat setempat.
Namun, otoritas menegaskan bahwa semua korban kini mendapatkan penanganan medis yang sesuai dan pemantauan berkelanjutan.
Para santri yang masih dalam perawatan di rumah sakit diperkirakan akan dievaluasi secara rutin oleh dokter spesialis penyakit dalam.
Jika hasil laboratorium menunjukkan penyebab bakteri atau racun tertentu, pihak berwenang akan mengumumkan langkah-langkah pencegahan selanjutnya.
Pengelola SPPG menyatakan komitmen untuk meninjau kembali prosedur keamanan pangan sebelum melanjutkan program MBG di wilayah tersebut.
Kasus keracunan MBG di Demak menjadi sorotan nasional, mengingat besarnya jumlah penerima manfaat program gizi gratis.
Hingga akhir pekan, kondisi mayoritas korban dinyatakan stabil, meskipun sebagian masih memerlukan perawatan lanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan