Media Kampung – Bagi penggemar tembak-menembak, nama Crossfire mungkin identik dengan multiplayer FPS asal Korea yang sangat populer. Namun, tahukah Anda bahwa ada dua game berbeda dengan nama yang sama? Yang pertama adalah game multiplayer buatan Smilegate, sementara yang kedua adalah game singleplayer yang dikembangkan oleh Remedy Entertainment, studio di balik Max Payne dan Control.
Dua Crossfire, Satu Nama
Crossfire versi multiplayer pertama kali dirilis pada tahun 2007 dan sering dijuluki sebagai ‘Counter-Strike-nya Korea’. Game ini sukses besar, menghasilkan pendapatan miliaran dolar bagi pengembangnya, Smilegate. Pada tahun 2020, Smilegate memutuskan untuk memperluas waralaba ini ke konsol dengan merilis CrossfireX, yang mencakup kampanye singleplayer.
Yang menarik, kampanye singleplayer CrossfireX dikerjakan oleh Remedy Entertainment. Studio asal Finlandia ini dikenal dengan gaya bercerita yang unik dan seringkali surealis. Mereka menghasilkan dua kampanye sepanjang tiga jam yang mengikuti formula Call of Duty, namun dengan sentuhan khas Remedy.
Kampanye Remedy yang Tak Lagi Bisa Dimainkan
Sayangnya, CrossfireX tidak bertahan lama. Hanya setahun setelah dirilis, Smilegate menutup server game tersebut, membuat kampanye singleplayer buatan Remedy ikut hilang. Ini menjadi contoh lain dari fenomena ‘live-service shutdown’ yang merugikan para pemain.
Kampanye tersebut mengikuti Kapten Hall dan pasukannya di negara fiksi Azkharzia. Pemain akan diajak bertempur dari jalan ke jalan, dengan helikopter jatuh, dan dialog-dialog khas militer. Remedy menyelipkan elemen bullet time yang mengingatkan pada Max Payne, meski terasa berlebihan.
Meski begitu, ada momen-momen yang menunjukkan ciri khas Remedy, seperti adegan mimpi di mana Kapten Hall berjalan di rumahnya yang aneh, dengan kereta api mainan dan TV yang menampilkan istrinya berbicara dengan nada sinis. Adegan ini mengingatkan pada gaya surealis David Lynch dan karya Remedy sebelumnya.
Nasib yang Miris
Kampanye CrossfireX mendapat sambutan buruk dari kritikus dan pemain. Banyak yang menganggapnya sebagai noda di portofolio Remedy yang cemerlang. Namun, perlu diingat bahwa proyek ini mungkin membantu Remedy secara finansial selama masa sulit industri game. Meski begitu, tidak ada yang bisa memainkannya lagi sekarang.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua game bisa bertahan selamanya, terutama yang bergantung pada server online. Untuk saat ini, satu-satunya cara merasakan ‘Crossfire’ versi singleplayer adalah melalui video di YouTube.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.






















Tinggalkan Balasan