Media Kampung – Sumenep – Makam tua di pinggir jalan Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi, Sumenep, yang dikenal sebagai Buju Dhuwa, kini semakin ramai dikunjungi peziarah. Makam ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir empu pembuat keris pertama di desa tersebut.
“Orang menyebutnya makam yang dikeramatkan. Katanya, ini tempat dimakamkannya empu pembuat keris pertama di desa ini,” ujar Maswa, salah seorang pengunjung, Jumat (3/7/2026).
Dahulu, makam ini hanya dikenal oleh warga sekitar. Namun, setelah pemerintah desa memasang rambu-rambu dan papan nama, jumlah peziarah mulai meningkat. “Sejak ada penamaan saat ini pengunjungnya semakin ramai,” kata Maswa.
Sejarah dan Tradisi Ziarah
Bagi warga setempat, ziarah ke Buju Dhuwa bukan sekadar ritual. Ada yang datang karena nazar, misalnya nazar sapi sepasang. Ada pula yang menggelar makan bersama karena mendapat cucu laki-laki. Tradisi ini menunjukkan kuatnya ikatan spiritual masyarakat dengan makam keramat tersebut.
Pemerintah Desa Aeng Tong-Tong telah menata lokasi makam dan zona empu, serta titik-titik sejarah lainnya. Hal ini dilakukan untuk melestarikan warisan budaya dan memudahkan akses peziarah.
Asal-Usul Empu Pertama
Sejarah Buju Dhuwa ternyata berkaitan erat dengan asal-usul Desa Aeng Tong-Tong. Tokoh yang dimakamkan di sana adalah orang yang pertama kali membabat alas (membuka lahan) desa, sekaligus mewariskan keterampilan pembuatan keris. “Tokohnya berasal dari Desa Bukabu, Kecamatan Ambunten,” imbuh Maswa.
Dengan demikian, Buju Dhuwa tidak hanya menjadi situs religi, tetapi juga simbol peradaban dan keahlian seni tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Akses dan Musim Ziarah
Lokasi makam yang berada di tepi jalan desa Aeng Tong-Tong-Talang membuatnya mudah dijangkau. “Kalau bulan Muharram seperti sekarang ini, semakin banyak yang datang,” kata Rahem, peziarah lainnya.
Meningkatnya popularitas Buju Dhuwa diharapkan dapat mendorong pelestarian budaya dan sejarah lokal, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pariwisata religi.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





















Tinggalkan Balasan