Media Kampung – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon berharap karya sastra klasik Indonesia dapat diadaptasi ke dalam bentuk film, teater, atau drama musikal. Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas pemanfaatan karya sastra dalam industri kreatif nasional sekaligus memperkuat eksistensi sastra di tengah masyarakat.
Harapan itu disampaikan Fadli usai menghadiri acara Sasana Membaca Klasik Indonesia di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Kamis, 2 Juli 2026. Ia mencontohkan novel klasik Mochtar Lubis berjudul Jalan Tak Ada Ujung yang berhasil diadaptasi menjadi film Perang Kota pada 2025.
“Mudah-mudahan karya sastra klasik bisa dihilirisasi dalam bentuk teater, film, atau drama musikal. Seperti tahun lalu film Perang Kota yang diangkat dari novel Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung,” ujar Fadli.
Menurut Fadli, banyak karya sastra klasik Indonesia yang berpotensi untuk terus diadaptasi ke berbagai bentuk pertunjukan seni. Ia berharap program hilirisasi sastra dapat dilanjutkan secara berkelanjutan setiap tahun dan menjadi bagian dari peringatan Hari Sastra Indonesia.
“Jadi sastra ini kita harapkan akan kita lanjutkan setiap tahunnya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi bagian dari peringatan Hari Sastra Indonesia,” tambahnya.
Langkah Strategis Perkenalkan Sastra ke Dunia Internasional
Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan bersama Manajemen Talenta Nasional meluncurkan enam buku terjemahan sastra klasik Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Peluncuran ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia di kancah internasional.
Dalam proses penerjemahan, tim yang tergabung dalam Laboratorium Penerjemahan Sastra menyelesaikan pekerjaan selama satu tahun penuh. Seluruh tahapan dilakukan secara bertahap untuk memastikan ketepatan bahasa, makna, serta kualitas setiap naskah yang diterjemahkan.
Kisah di Balik Adaptasi Film Perang Kota
Sutradara Mouly Surya menceritakan bahwa gagasan film Perang Kota (2025) muncul dari rak bukunya yang lama tak tersentuh. Buku Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis yang dirilis pada 1952 itu telah lama tersimpan tanpa sempat dibaca.
“Sudah lama, ada di rak buku, tidak dibaca-baca. Saat mulai membaca, entah kenapa saya seperti melihat semacam gambar di kepala saya,” ucap Mouly.
Dalam novel yang berlatar Jakarta pada masa kolonial pascakemerdekaan tahun 1946 itu, ia menemukan potensi sinematik yang kuat. Ia pun segera merekomendasikannya kepada sang suami sekaligus produser, Rama Adi.
Proses kreatif film tersebut dimulai pada tahun 2018 dan selesai pada tahun 2024. Mouly menjelaskan bahwa lamanya pembuatan film disebabkan oleh proses produksi lintas negara yang kompleks. Film ini melibatkan koproduksi dari tujuh negara, yaitu Indonesia, Singapura, Belanda, Prancis, Norwegia, Filipina, dan Kamboja.
Adaptasi Jalan Tak Ada Ujung menjadi film Perang Kota menjadi contoh nyata bagaimana karya sastra klasik Indonesia dapat menjangkau masyarakat luas melalui medium audiovisual. Fadli berharap lebih banyak karya sastra klasik yang diadaptasi ke film, teater, atau drama musikal di masa mendatang.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.






















Tinggalkan Balasan