Media Kampung – Pendakwah kondang Habib Jafar akan menyapa penggemar melalui layar lebar. Film drama berjudul Seni Merayu Tuhan yang merupakan adaptasi dari buku larisnya siap tayang di bioskop pada 13 Agustus mendatang.

Keterlibatan Langsung Habib Jafar

Habib Jafar turun tangan mengawal naskah sejak awal. Ia mengaku terlibat langsung dari pembicaraan ide hingga proses penulisan skenario yang mencapai 14 draf. “Saya ingin karya ini betul-betul sesuai dengan visi, sesuai dengan nilai bukunya, tegak lurus dengan visi bukunya,” kata Jafar saat ditemui di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis.

Dakwah Melalui Medium Bioskop

Menurut Habib Jafar, film ini bukan sekadar alat promosi, melainkan memiliki target audiens dakwah yang jauh lebih luas. Ia berharap penonton bisa memetik hikmah kehidupan nyata. Cerita ini mengajak masyarakat merenungkan makna dalam segala hal. Jafar menyamakan tema film ini dengan karya Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning. “Film ini bertema yang sama, bagaimana mengajak kita untuk mencari makna dalam segala hal,” tambahnya.

Gagasan dakwah lewat film ini sudah lama muncul ketika Habib Jafar sering berdiskusi dengan para tokoh ulama besar, seperti Gus Mus dan Prof. Quraish Shihab. Mereka membahas potensi medium bioskop sebagai sarana dakwah. “Makanya ada obrolan antara Gus Mus, Prof. Quraish Shihab waktu itu, tentang dakwah by film, bikin dakwah melalui layar bioskop. Ini adalah salah satu puncaknya, buku kemudian menjadi karya bioskop,” ungkapnya.

Sinopsis dan Pemeran

Produser Salman Aristo menyebut film ini menyoroti perjalanan seorang pemuda bernama Hikmah yang diperankan oleh Ari Irham. Hikmah sedang berjuang melewati fase kedewasaan yang berat, dengan titik terendah saat ibunya meninggal dunia. Sosok ibu diperankan oleh Rieke Diah Pitaloka. “Sebuah cerita yang relevan dan dekat dengan generasi muda saat ini, dikemas dengan kisah tentang keluarga, persahabatan, cinta, kehilangan, dan pencarian makna hidup,” kata Aristo.

Film ini disutradarai oleh Cesa David Luckmansyah. Deretan aktor dan aktris berbakat tanah air turut meramaikan, termasuk Lutesha, Teuku Ryzki, Arie Kriting, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, dan Alfie Alfiandy.

Kolaborasi Strategis dan Musik

Rumah produksi Wahana Kreator menggandeng Perpustakaan Nasional RI dan Mizan Pustaka dalam proyek ini, dengan tujuan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Tim produksi sangat memperhatikan elemen musik pengiring cerita. Mereka menguratori lagu-lagu dengan sentuhan spiritual yang kental. Terdapat enam lagu utama dalam jalur suara film, antara lain “Muara Dosa” dari That’s Rockefeller, “Dialog Diri” dari Adhitia Sofyan, “Menjadi Manusia” dari Donne Maula, “Menunggu Ujung” dari almarhum Gusti Irwan Wibowo, “Urip” dari Kunto Aji, dan “Sejenak” dari Biru Baru. Para musisi ini dipilih secara khusus, bukan dari pemeran film.

Gina S. Noer, Head of IP Initiative Wahana Kreator sekaligus penulis skenario dan produser eksekutif, menjelaskan proses kurasi lagu. “Pemilihannya tentu kita lihat adegannya, tapi kemudian setiap lagu yang ada itu adalah lagu yang memiliki unsur spiritual,” ujarnya. Gina bekerja meracik naskah bersama Rino Sarjono dan Salman Aristo, memastikan pesan kebaikan tersampaikan tanpa kesan menggurui.

Kolaborasi ini menjanjikan tontonan berkualitas pada pertengahan Agustus nanti, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak penonton merenungkan makna hidup.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.