Media KampungKematian Oliver Tree, seorang kreator konten dan musisi berusia 32 tahun dalam kecelakaan helikopter di São Paulo, Brasil, memunculkan pertanyaan mendalam: Where Does the Content Go When a Content Creator Dies. Warisan digital para kreator konten internet belum memiliki tempat yang jelas, berbeda dengan karya seniman tradisional yang dapat bertahan melalui radio, streaming, atau museum.

Oliver Tree, yang dikenal dengan rambut khas dan aksi-aksinya yang nyeleneh, meninggalkan jutaan pengikut dan konten yang terus beredar. Namun, tidak ada kanon resmi untuk video-video seperti dirinya yang berdandan ala nu-metal, menghisap vape raksasa, atau membangun skuter terbesar di dunia. Pertanyaan tentang bagaimana masyarakat mengingat kreator konten menjadi semakin relevan.

Dalam dunia di mana kecepatan dan viralitas adalah segalanya, banyak kreator tidak pernah keluar dari fase awal yang bising. Oliver Tree sendiri mengaku sebagai ‘seniman pop surealis’ yang mengomentari sifat internet yang keras dan sementara. Namun, platform digital tidak dirancang untuk mengingat, sementara penggunanya pasti akan mati.

Kematian Oliver Tree menyoroti kesenjangan antara popularitas daring dan pengakuan abadi. Meskipun ia memiliki jutaan penonton dan kontrak dengan Atlantic Records, kritikus musik seperti Pitchfork hanya memberi nilai 4,8 untuk albumnya. Hal ini menunjukkan bahwa nasib kreator konten berbeda dari seniman yang karyanya dianggap sebagai oeuvre.

Belum ada jawaban pasti tentang bagaimana warisan digital akan dilestarikan. Akankah ada Museum TikTok atau galeri meme? Atau akankah konten-konten itu hanya menghilang ditelan algoritma? Yang jelas, pertanyaan Where Does the Content Go When a Content Creator Dies masih menggantung di era digital ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.