Media Kampung – Kementerian Kesehatan RI memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk deteksi dini kanker hingga ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. Langkah ini bertujuan mempercepat diagnosis dan meningkatkan akses layanan kanker bagi masyarakat di berbagai daerah.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kanker di Indonesia. Banyak pasien baru datang saat kanker sudah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan menurun.
“Kunci utama penanggulangan kanker adalah deteksi cepat dan pengobatan cepat. Jika diketahui pada stadium satu, peluang kesembuhan dengan teknologi yang ada saat ini sangat tinggi,” ujar Budi dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Distribusi Alat Diagnostik Berbasis AI
Untuk mendukung deteksi dini, Kemenkes mulai mendistribusikan mesin X-ray digital dan alat ultrasonografi (USG) berbasis AI ke sekitar 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia. Teknologi ini membantu tenaga kesehatan mendeteksi kanker paru dan benjolan pada payudara sejak tahap awal.
Selain itu, pemerintah menyiapkan layanan tes HPV DNA di fasilitas kesehatan primer untuk mendeteksi virus penyebab kanker serviks. Di tingkat rujukan, sebanyak 514 kabupaten/kota ditargetkan memiliki fasilitas CT Scan, sementara pengadaan 60 unit PET Scan ditargetkan rampung pada 2028.
Penguatan SDM Kesehatan
Menurut Budi, penguatan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan. Tenaga medis perlu dilatih agar mampu mengoperasikan peralatan diagnostik berbasis AI secara optimal.
Melalui pemerataan teknologi diagnostik, penguatan tenaga medis, serta pengembangan layanan berbasis kedokteran presisi, Kemenkes berharap semakin banyak kasus kanker ditemukan pada stadium awal. Dengan demikian, peluang kesembuhan meningkat dan angka kematian akibat kanker di Indonesia dapat ditekan.















Tinggalkan Balasan