Media Kampung – Susunan angka pada kalkulator dan telepon ternyata memiliki sejarah panjang yang berakar dari kebutuhan teknologi dan kenyamanan pengguna. Pada kalkulator, angka disusun mulai dari 7-8-9 di bagian atas, sementara telepon menggunakan urutan 1-2-3 di bagian atas.
Sejarah ini bermula sejak era revolusi industri, ketika Jean-Baptiste Schwilgué membuat kalkulator pertama dengan papan tombol numerik sederhana pada tahun 1844. Kemudian, pada akhir abad ke-19, mesin hitung seperti Comptometer karya Dorr Felt menggunakan susunan angka vertikal dari 9 ke 1 untuk efisiensi kerja operator dan penyesuaian sistem mekanik.
Pada 1914, David Sundstrand memperkenalkan desain papan angka 3×3 dengan susunan 7-8-9 di atas dan angka 0 di bawah yang dianggap paling nyaman untuk penggunaan satu tangan. Desain ini menjadi standar kalkulator modern yang masih digunakan sampai sekarang.
Sementara itu, industri telepon memilih pendekatan berbeda pada tahun 1950-an. Saat AT&T mengembangkan telepon tombol, penelitian menunjukkan bahwa pengguna lebih nyaman dengan susunan angka 1-2-3 di bagian atas yang dibaca dari kiri ke kanan. Pola ini akhirnya menjadi standar telepon hingga era smartphone.
Penelitian juga mengungkapkan bahwa kecepatan penggunaan antara kedua tata letak tidak berbeda signifikan. Faktor utama yang mempengaruhi adalah kebiasaan dan kemudahan pemahaman pengguna. Oleh karena itu, aplikasi kalkulator di ponsel tetap mempertahankan pola 7-8-9, sedangkan aplikasi telepon mengikuti pola 1-2-3.
Dari mesin hitung mekanik abad ke-19 hingga layar sentuh modern, susunan tombol angka berkembang berdasarkan perpaduan antara kebutuhan teknologi, efisiensi, dan adaptasi manusia. Ini membuktikan bahwa desain antarmuka yang familiar mampu bertahan lama karena kenyamanan pengguna.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan