Media Kampung – Nvidia baru saja merilis laporan keuangan kuartal terakhir yang menunjukkan pertumbuhan signifikan, terutama didorong oleh permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang disebut perusahaan terus meningkat dengan sangat cepat. Namun, setelah berbicara dengan beberapa ahli rantai pasok, pandangan terhadap prospek pertumbuhan ini ternyata bervariasi dan tidak sepenuhnya sejalan dengan optimisme Nvidia.

Dalam panggilan laporan keuangan terbaru, Colette Kress, Wakil Presiden Eksekutif sekaligus CFO Nvidia, menyatakan bahwa permintaan untuk infrastruktur AI berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menambahkan bahwa pembangunan pabrik AI semakin cepat dan nilai infrastruktur AI Nvidia terus naik. Perusahaan bahkan menaikkan harga sewa GPU H100 sebesar 20% sejak awal tahun dan harga sewa GPU A100 di cloud naik hampir 15%, menunjukkan permintaan yang kuat di pasar.

Nvidia membagi bisnisnya menjadi dua segmen utama untuk pelaporan keuangan, yaitu pusat data yang mencakup hyperscale dan layanan AI cloud, serta edge computing yang meliputi perangkat fisik AI dan gaming PC. Pada kuartal terakhir, pendapatan Nvidia melonjak 85% secara tahunan mencapai 82 miliar dolar AS, dan perusahaan memproyeksikan pertumbuhan berkelanjutan selama permintaan AI tetap tinggi. CEO Jensen Huang bahkan menyatakan bahwa pengeluaran modal untuk hyperscale diharapkan mencapai triliunan dolar tahun ini dan berpotensi naik di masa depan.

Meski demikian, para ahli di luar Nvidia memberikan pandangan yang berbeda tentang kelangsungan lonjakan permintaan ini. Jonathan Colehower, Managing Director Global Operations & Supply Chain di UST, memperkirakan pasar AI akan mulai melambat dan permintaan global akan memberi ruang bernapas sebelum akhir 2026. Ia menjelaskan bahwa selama enam bulan terakhir adalah puncak euforia AI dan pusat data, dan saat ini mulai terlihat perlambatan. Colehower juga mengomentari kemungkinan gelembung AI pecah, meskipun ia melihatnya sebagai proses yang lebih halus dengan penyesuaian lokasi pusat data karena resistensi dari masyarakat lokal, terutama di Amerika Serikat.

Sementara itu, Derek Lemke, Senior Vice President di Exiger, lebih optimistis terhadap prospek AI. Ia menilai adopsi AI yang meluas di perusahaan Fortune 500 mendorong kebutuhan komputasi dan GPU yang terus meningkat. Lemke menyoroti investasi strategis yang mulai terjadi di Amerika Serikat untuk mendukung infrastruktur energi dan teknis yang diperlukan agar sektor AI dapat berkembang secara lokal dan berkelanjutan.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa masa depan permintaan infrastruktur AI masih penuh ketidakpastian. Mengingat pasar AI yang relatif baru dan dinamis, wajar jika ada berbagai prediksi yang berbeda dari para pakar. Oleh sebab itu, klaim Nvidia mengenai pertumbuhan permintaan AI yang sangat cepat tidak dapat dianggap sebagai kepastian mutlak dan perlu diikuti dengan pendekatan yang lebih kritis serta pengawasan perkembangan pasar selanjutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.