Media Kampung – Pengembang game All Will Rise mengakui bahwa mereka mengantisipasi adanya reaksi negatif dari audiens Barat terkait penggambaran perlawanan kekerasan dan ekoterorisme dalam permainan tersebut. Game ini mengangkat cerita aktivisme lingkungan yang tidak hanya menggunakan jalur hukum, tetapi juga aksi langsung termasuk kekerasan sebagai bentuk perjuangan melawan kerusakan alam.
Hugo Bille, direktur desain All Will Rise, menyebutkan bahwa tema yang diangkat dalam game ini mirip dengan kontroversi yang terjadi pada film adaptasi buku How to Blow Up a Pipeline karya Andreas Malm. Film tersebut mengangkat etika terorisme dalam konteks krisis iklim dan mendapat kritik dari kalangan konservatif di Barat, terutama karena dianggap mengagungkan tindakan terorisme. FBI bahkan mengkhawatirkan film tersebut dapat memicu serangan terhadap infrastruktur pipa di Amerika Utara.
Narasi dalam All Will Rise dikembangkan untuk membuka diskusi tentang kekerasan dalam gerakan aktivisme iklim. Narator utama, Meghna Jayanth, menyampaikan bahwa di Barat terdapat anggapan bahwa pendekatan non-kekerasan ala Extinction Rebellion atau Roger Hallam adalah satu-satunya cara yang benar. Namun, kenyataannya di banyak tempat, termasuk Inggris, penindasan terhadap aktivis berlangsung keras, bahkan terhadap yang bersifat damai sekalipun.
Jayanth juga menyoroti situasi di Amerika Serikat di mana aktivis sayap kanan yang melakukan kekerasan mendapat perlindungan politik, sementara aktivis imigrasi mengalami tindakan represif dan kekerasan dari pihak berwenang. Dalam konteks ini, batasan mengenai tindakan aktivisme menjadi kabur dan kompleks.
Uniknya, game ini tidak berlatar di dunia Barat, melainkan di kota fiksi Muziris yang terinspirasi dari India. Hal ini memberikan latar yang berbeda, mengangkat pengalaman masyarakat adat dan perjuangan mereka yang seringkali terjadi jauh dari sorotan dunia. Jayanth mencontohkan bagaimana kekerasan dalam perjuangan masyarakat Adivasi, yang seringkali harus menggunakan taktik gerilya karena penindasan mereka terjadi di hutan dan jauh dari publik.
Dalam permainan, pemain akan berperan sebagai Kuyili, seorang pengacara yang menuntut keadilan atas kematian sungai, sembari menghadapi perdebatan ide tentang cara perjuangan yang benar. Karakter lain seperti Kottavai mewakili filosofi aksi langsung dan kekerasan, yang dalam narasi digunakan sebagai alat untuk membangkitkan semangat perlawanan melalui spiritualitas.
Jayanth menegaskan bahwa semua taktik aktivisme, baik yang damai maupun yang menggunakan kekerasan, perlu dipahami sebagai bagian dari koalisi yang lebih besar dalam melawan ketidakadilan. Game ini sengaja dirancang untuk mengundang perdebatan dan perbedaan pendapat agar diskusi mengenai tindakan yang diperlukan dalam menghadapi krisis lingkungan bisa berkembang.
All Will Rise sendiri belum memiliki tanggal rilis resmi, namun demo game sudah tersedia untuk dicoba. Permainan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda dalam mengangkat tema lingkungan dan aktivisme yang kompleks, jauh dari gambaran aktivis yang monoton dan membosankan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan