Media Kampung – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, tengah menjadi sorotan publik menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, rupiah tercatat berada di posisi Rp17.671 per dolar AS, memicu reaksi dari berbagai kalangan.

Salah satu yang menyoroti situasi ini adalah Primus Yustisio, anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN. Dalam rapat bersama Bank Indonesia pada hari yang sama, Primus menyarankan agar Perry Warjiyo mempertimbangkan untuk mundur jika dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya secara maksimal.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan. Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri,” ujar Primus Yustisio dalam rapat tersebut. Pernyataan ini menambah tekanan terhadap Gubernur BI yang tengah menghadapi tantangan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Perry Warjiyo menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode kedua sejak 2023 hingga 2028. Sebelumnya, ia juga memimpin BI pada periode 2018-2023. Pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 25 Februari 1959 ini memiliki pengalaman panjang di bidang ekonomi dan perbankan.

Karier akademis Perry dimulai dengan gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada pada 1982. Ia melanjutkan studi ke jenjang Magister dan Doktor di bidang ekonomi moneter di Iowa State University, Amerika Serikat, yang diselesaikan pada 1989 dan 1991.

Sebelum menjadi Gubernur BI, Perry pernah menduduki sejumlah posisi kunci di Bank Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional pada 2009-2013 serta Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter.

Tidak hanya berkarier di dalam negeri, Perry juga pernah menjadi Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF) pada 2007-2009, mewakili 13 negara anggota dalam kelompok pemilih Asia Tenggara.

Sejak bergabung dengan Bank Indonesia pada 1984, Perry aktif menangani berbagai isu seperti kebijakan moneter, pengelolaan devisa, transformasi organisasi, hingga hubungan internasional. Kiprahnya di bidang ekonomi mendapat pengakuan melalui beberapa penghargaan bergengsi, antara lain Governor of the Year Asia Pasifik dari Global Markets pada 2019, Anugerah Hamengku Buwono IX dari UGM pada 2022, serta penghargaan Pemimpin Terpopuler di Media Online tahun 2023.

Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini menjadi tantangan besar bagi Perry Warjiyo dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Tekanan dari berbagai pihak, termasuk anggota DPR, menunjukkan dinamika pengawasan terhadap kinerja Gubernur BI. Hingga kini, Perry belum memberikan respons resmi terkait ajakan pengunduran diri tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.