Media Kampung – Sebuah investigasi yang dilakukan oleh The New York Times mengungkap keberadaan dua pangkalan militer rahasia Israel di Irak yang digunakan sebagai basis untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Pangkalan-pangkalan ini ditemukan sebagai titik strategis dalam operasi militer yang berlangsung antara tahun 2025 dan 2026.
Penemuan ini bermula dari insiden seorang penggembala lokal Irak yang tewas setelah mendekati salah satu lokasi pangkalan rahasia tersebut. Investigasi mendalam mengungkap bahwa operasi ini tidak hanya mengandalkan teknologi militer canggih, tetapi juga mendapat dukungan politik dari Amerika Serikat. Washington diketahui memaksa Irak untuk mematikan sistem radar mereka demi melindungi jet tempur AS selama konflik dengan Iran, menciptakan kondisi ‘kebutaan radar’ yang dimanfaatkan Israel untuk mendirikan dan mengoperasikan pangkalan tersebut.
Sejumlah pejabat keamanan Irak menyatakan bahwa ketergantungan Baghdad terhadap pasukan AS dalam pemantauan udara membuat sistem pertahanan Irak lumpuh, sehingga membuka celah bagi operasional Israel. Ketika pasukan pengintai Irak mencoba mendekati lokasi itu pada awal Maret 2026, mereka mendapat serangan tembakan yang memaksa mereka mundur dan menyebabkan satu prajurit tewas. Kepala Staf Angkatan Darat Irak, Jenderal Abdul Amir Yarallah, menghubungi pihak AS untuk mengonfirmasi identitas pasukan tersebut, namun jawaban yang diterima hanya singkat bahwa itu bukan pasukan AS. Komandan Pasukan Eufrat Barat, Jenderal Ali Al-Hamdani, menyimpulkan bahwa pasukan tersebut kemungkinan besar adalah militer Israel.
Analisis citra satelit menunjukkan pembangunan pangkalan berlangsung sangat cepat, dimulai pada 2 Maret 2026 dengan kedatangan pasokan logistik. Keberadaan pangkalan sempat terdeteksi sehari setelahnya, yang berujung pada kematian penggembala lokal tersebut. Aktivitas militer di sekitar pangkalan meningkat signifikan hingga pertengahan Maret, tetapi pangkalan itu hilang sepenuhnya pada awal April setelah hujan deras dan banjir bandang di wilayah Anbar menghancurkan seluruh sisa material.
Aspek teknis lain seperti komunikasi terenkripsi, teknik perang elektronik untuk mengelabui radar Irak, serta distribusi bahan bakar ke lokasi terpencil masih belum terungkap secara rinci. Pengungkapan keberadaan pangkalan militer ini juga dinilai memiliki tujuan politik tertentu. Analis geopolitik Bryan MacDonald menyebut publikasi ini sebagai bentuk unjuk kekuatan Israel di tengah mandeknya negosiasi gencatan senjata dengan Iran, sekaligus menunjukkan kemampuan Israel dalam mengelola operasi militer secara rahasia di wilayah negara ketiga.
Hingga kini, informasi detail mengenai bagaimana pangkalan tersebut beroperasi dan koordinasi antara Israel dengan Amerika Serikat masih menjadi sorotan utama dalam peristiwa ini. Pengungkapan ini membuka babak baru dalam dinamika keamanan regional yang melibatkan Irak, Israel, dan Iran.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan