Media Kampung – Serial Netflix Night Shift for Cuties hadir sebagai tayangan yang mendobrak stereotipe perempuan di industri K-Pop. Serial yang tayang pada 4 Juni 2026 ini mengusung tema pemberdayaan perempuan dengan sentuhan emosional humanis, namun tetap ikonis lewat gemerlap K-pop.

Disutradarai Monica Vanesa Tedja atau Mica, serial ini juga ditulis bersama Aline Djayasukmana. Dalam konferensi pers di Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (4/6), Aline mengungkapkan bahwa serial ini sengaja mendobrak normalitas yang ada di industri musik K-pop, terutama dari pemilihan aktor hingga proyeksi penggarapan cerita.

“Sebagai perempuan, kita merasakan bagaimana kita menavigasi diri di mans world. Bagi perempuan, tantangannya banyak,” ujar Aline. Ia menambahkan bahwa serial ini menjadi alternatif yang mengubah pandangan akan tuntutan tinggi terhadap perempuan di industri musik, termasuk standar kecantikan dan penampilan.

“Apalagi ketika jadi idola. Itu pasti kayak kamu harus kurus, kamu harus berpenampilan prima, enggak boleh tua. Bukan cuma K-pop saja ya. Hampir di semua industri tantangan buat perempuan sangat tinggi,” jelasnya.

Salah satu terobosan utama dalam serial ini adalah karakter Boki, pentolan girl group yang digambarkan memiliki tubuh plus-size. Kehadiran Boki sengaja diciptakan untuk menyuarakan isu standar kecantikan dan mendobrak batasan konvensional di industri hiburan. “Seperti yang teman-teman udah lihat di trailer tadi, sebagai contoh pentolan girl group kita seseorang yang plus-size, si Boki ini. Ya, itu sesuatu yang kita mau break the barrier, what if si pentolan grup K-pop seseorang yang enggak konvensional,” kata Aline.

Dengan langkah berani ini, Night Shift for Cuties diharapkan mampu membuka diskusi tentang representasi dan keberagaman di industri K-pop, serta memberikan inspirasi bagi perempuan untuk tetap percaya diri tanpa harus memenuhi standar yang sempit.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.