Media Kampung – Para ilmuwan akhirnya memecahkan misteri di balik kecerdasan organisme tanpa otak yang dikenal sebagai jamur lendir. Spesies Physarum polycephalum, jamur lendir kuning cerah ini, selama ini dikenal mampu memecahkan labirin, mengingat rute, dan menemukan jalur paling efisien menuju makanan meski tidak memiliki otak atau sistem saraf.

Tim peneliti dari Jerman dan Amerika Serikat melakukan eksperimen untuk menguji kemampuan jamur lendir tersebut. Mereka menjebak jamur lendir yang kelaparan di dalam kandang berbentuk segi enam dan menyinarinya dengan cahaya biru yang sangat dibenci oleh organisme ini. Akibatnya, jamur lendir dipaksa memilih antara bertahan atau melarikan diri untuk mencari makanan.

Hasilnya, jamur lendir memilih untuk melarikan diri. Para peneliti mengamati bagaimana jamur lendir mulai menjajaki sekelilingnya dengan tonjolan-tonjolan kecil, menguji beberapa rute sekaligus saat merayap di sekitar segi enam untuk mencari jalan keluar. Akhirnya, jamur lendir menemukan jalan keluar dan secara konsisten menggunakan rute yang sama berulang kali di berbagai bentuk geometris yang berbeda.

Konsistensi ini sempat membuat para peneliti berpikir bahwa jamur lendir mungkin menghafal jalur tersebut. Namun, penelitian yang dipublikasikan di PRX Life mengungkapkan bahwa yang terjadi bukanlah proses berpikir. Tubuh jamur lendir terus-menerus berdenyut secara ritmis, mendorong cairan melalui jaringan tabung internalnya. Saat menjelajah, denyutan tersebut mulai menata ulang diri hingga menemukan cara paling efisien untuk memindahkan massa terbesar.

Dengan kata lain, apa yang tampak seperti pengambilan keputusan sebenarnya hanyalah aliran fluida yang secara alami menggeser massa ke beberapa arah hingga kandangnya pecah. Jamur lendir tidak berpikir, merencanakan, atau berdebat. Ia secara alami tertolak oleh cahaya biru sehingga mulai mengembang dengan cepat, mendorong batas kandangnya, dan memompa cairan melalui jaringan pipa internalnya hingga berhasil keluar.

Proses ini mengikuti hukum fisika alamiah dengan begitu efektif sehingga terlihat lebih cerdas daripada yang sebenarnya. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana organisme sederhana dapat menunjukkan perilaku kompleks tanpa memerlukan otak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.