Media Kampung – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa setiap inovasi yang dihasilkan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia. Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, ia memaparkan tiga inovasi prioritas BRIN yang difokuskan pada mitigasi bencana, ketahanan pangan, dan transisi energi berkelanjutan.
Arif Satria menekankan bahwa riset tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan harus bertransformasi menjadi solusi konkret dan kebijakan berbasis bukti. “BRIN hadir untuk menyelesaikan persoalan riil di masyarakat. Inovasi kita harus berdampak langsung,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Di sektor mitigasi bencana, BRIN memperkenalkan Teknologi Peredam Gempa yang dirancang untuk meningkatkan resiliensi infrastruktur di wilayah rawan gempa. Sementara itu, untuk ketahanan pangan, peneliti BRIN berhasil mengembangkan varietas padi biosalin yang toleran terhadap salinitas tinggi, membuka peluang bertani di lahan pesisir yang terpengaruh intrusi air laut.
Dalam upaya transisi energi, BRIN terus menggenjot implementasi fasilitas Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Teknologi ini tidak hanya mengatasi masalah penumpukan sampah perkotaan, tetapi juga berkontribusi pada diversifikasi sumber energi nasional.
Ke depan, BRIN menginisiasi “Rumah Inovasi Indonesia”, sebuah platform kolaborasi yang mempertemukan hasil riset dengan industri, investor, dan filantropi untuk mempercepat hilirisasi produk teknologi. Arif Satria juga mengajukan usulan penguatan anggaran kepada parlemen, khususnya untuk revitalisasi infrastruktur vital seperti fasilitas ketenaganukliran yang diperlukan untuk energi, industri, dan kesehatan.
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan anggaran BRIN. Menurutnya, riset dan inovasi merupakan investasi fundamental jangka panjang bagi pembangunan nasional.
Di sisi lain, Arif Satria menyoroti ironi di tubuh BRIN: meski anggaran riset meningkat hingga Rp1,9 triliun, proposal penelitian yang layak baru mencapai sekitar Rp150 miliar. Ia mendesak para peneliti untuk meningkatkan kualitas proposal dan tidak terpaku pada target administratif. “Karya besar lahir ketika peneliti benar-benar menyatu dengan bidangnya, seperti para peraih Nobel yang fokus pada satu bidang selama puluhan tahun,” tegasnya.
BRIN berkomitmen menjadi think tank pembangunan yang menyediakan solusi cepat dan akurat bagi pemerintah. Dengan fokus pada tiga inovasi strategis dan peningkatan kualitas riset, BRIN optimistis dapat memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan