Media Kampung – Wakil Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Zainut Tauhid Sa’adi, menegaskan bahwa zakat bukan hanya sebagai kewajiban finansial, tetapi juga merupakan fondasi utama dalam membangun kebangkitan ilmu pengetahuan di Nusantara.
Pernyataan ini disampaikan Zainut pada Perayaan Sidang Pujangga Persuratan di Nusantara yang berlangsung di Universiti Malaya, Malaysia, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa zakat memiliki peran strategis dalam mengembangkan ekosistem pendidikan dan menjaga kelestarian kekayaan intelektual di kawasan ini.
Dalam forum tersebut, Zainut juga mengingat jasa para pujangga besar seperti Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Nuruddin al-Raniri, Syeikh Abdur Ra’uf al-Fansuri, Sunan Bonang, Buya Hamka, hingga Syed Muhammad Naquib al-Attas. Ia menyoroti bahwa karya-karya mereka lahir berkat dukungan dari ekosistem keuangan Islam yang kuat, termasuk zakat, infak, dan wakaf.
“Keberadaan dana umat melalui zakat, infak, dan wakaf terbukti menjadi pilar utama yang menopang pertumbuhan literasi serta perkembangan persuratan di Nusantara hingga saat ini,” ujar Zainut, sebagaimana dirilis oleh humas BAZNAS melalui WAGroup Baznas Media Center pada Senin, 18 Mei 2026.
Lebih lanjut, Zainut menekankan bahwa pertemuan ini memiliki arti penting untuk masa depan literasi dan keilmuan di Nusantara. Forum ini bukan sekadar acara akademis, melainkan juga menjadi ikrar kolektif agar tradisi keilmuan para ulama dan pujangga Nusantara tidak hilang ditelan zaman.
Dengan demikian, zakat bukan hanya sebuah kewajiban ritual, tetapi berperan sebagai mesin peradaban yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan melestarikan warisan intelektual di Nusantara. Forum ini menjadi momentum penting untuk memastikan semangat keilmuan terus terjaga dan berkembang di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan