Media Kampung – Kabupaten Nganjuk akan menjadi saksi kedatangan 51 biksu asing dari Thailand, Laos, dan Malaysia pada 20 Mei 2026 sebagai bagian dari Indonesian Walk for Peace 2026. Kedatangan mereka merupakan inti dari Misi Perdamaian Nganjuk yang bertujuan menyebarkan pesan damai dan persaudaraan.
Rombongan biksu akan menempuh jalur yang disebut Anjuk Ladang, melewati wilayah Kabupaten Nganjuk dengan rute mulai dari Kelenteng Gudo di Jombang, melintasi Kertosono, hingga tiba di Kelenteng Hok Yoe Kiong, Sukomoro. Perjalanan kaki ini menandai langkah simbolis menuju toleransi lintas agama.
Ketua Panitia Kabupaten Nganjuk, Roy Sugianto, menegaskan, “Ini adalah misi perdamaian. Kami ingin masyarakat Nganjuk turut merasakan dan menyebarkan semangat harmoni.” Ia juga menjabat sebagai Ketua Kelenteng Hok Yoe Kiong, menambah bobot spiritual pada acara.
Pada sore hari, rombongan dijadwalkan tiba dan langsung menginap di aula Kelenteng Hok Yoe Kiong. Penyambutan diatur meriah dengan melibatkan unsur lintas agama, termasuk FKUB Nganjuk, jaringan Gusdurian, MLKI, serta komunitas Tionghoa (PSMTI) Nganjuk.
Sepanjang rute Jalan Raya Surabaya‑Solo, mulai dari kawasan Stasiun Baron hingga depan kelenteng, relawan akan memandu dan menyambut para biksu. Anak‑anak sekolah juga dilibatkan untuk berbaris di tepi jalan, menambah nuansa kebersamaan antar generasi.
Setelah beristirahat dan makan siang di Kertosono, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Sukomoro. Di sana, mereka akan disambut oleh jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat setempat sebelum beristirahat di aula kelenteng.
Pada hari kedua, para biksu akan melanjutkan perjalanan menyusuri jalan protokol Kota Nganjuk, melewati Jalan Yos Sudarso, Tugu Jayastamba, hingga Pendopo Kabupaten. Pendopo akan menjadi titik pertemuan dengan Bupati Nganjuk yang akan menerima rombongan secara resmi.
Rute tersebut tidak hanya menjadi jalur fisik, melainkan juga simbolik dalam menyatukan beragam elemen masyarakat. Roy menambahkan, “Anak‑anak sekolah juga akan turut berpartisipasi menyambut dengan berbaris di tepi jalan,” menegaskan peran pendidikan dalam perdamaian.
Setelah menyelesaikan audiensi dan kunjungan di Nganjuk, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke barat menuju Madiun, dengan singgah makan siang di Polsek Bagor. Langkah ini menandai kelanjutan aksi jalan kaki akbar yang dimulai dari Bali pada 7 Mei.
Aksi tersebut direncanakan berakhir di Candi Borobudur pada saat perayaan Waisak, menutup rangkaian perjalanan lintas pulau dengan simbol keagamaan yang kuat. Penutup ini menegaskan tujuan utama, yaitu menyebarkan perdamaian, persaudaraan, dan toleransi antarumat beragama.
Seluruh rangkaian kegiatan didukung oleh berbagai elemen masyarakat dan lembaga keagamaan, menunjukkan sinergi yang kuat dalam upaya mempromosikan nilai-nilai kebhinekaan. Keberhasilan acara ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengintegrasikan aksi damai ke dalam kehidupan sehari‑hari.
Dengan dukungan pemerintah daerah, tokoh agama, serta partisipasi aktif warga, Misi Perdamaian Nganjuk menjadi wujud konkret upaya memperkuat toleransi di era modern. Perkembangan selanjutnya akan dipantau oleh panitia dan media lokal untuk memastikan pesan damai tetap menginjak pada setiap langkah perjalanan biksu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan