Media Kampung – Muhammadiyah meresmikan Mualaf Learning Center (MLC) Sekadau di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat pada 19 April 2026, guna memperkuat kemandirian mualaf.
Upacara pembukaan dipimpin langsung oleh Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin, yang menegaskan agenda strategis pendampingan mualaf.
MLC Sekadau dibangun di lahan seluas satu hektar yang sebelumnya merupakan lahan kosong milik pemerintah daerah.
Fasilitas pusat belajar meliputi ruang kelas, perpustakaan, laboratorium komputer, serta ruang ibadah yang dapat menampung seratus jamaah.
Perangkat pendukung termasuk tenaga pengajar bersertifikasi, konselor psikolog, dan relawan yang terlatih dalam materi keislaman.
Program pembelajaran dirancang selama enam bulan, mencakup studi Al‑Qur’an, fiqh, bahasa Arab, serta keterampilan hidup mandiri.
Setiap peserta diwajibkan mengikuti modul dasar keislaman sebelum melanjutkan ke pelatihan kewirausahaan.
Inisiatif ini merupakan bagian dari program nasional pendampingan mualaf yang diluncurkan Muhammadiyah pada tahun 2023.
Target jangka panjang program adalah menciptakan komunitas mualaf yang mampu berdiri secara ekonomi dan sosial.
Di Sekadau, estimasi terdapat lebih dari 300 mualaf yang menjadi sasaran utama MLC ini.
Para peserta akan mendapatkan beasiswa penuh selama masa pelatihan, termasuk perlengkapan belajar dan seragam.
Selain materi keagamaan, MLC Sekadau menyediakan pelatihan keterampilan pertanian organik dan perikanan tradisional.
Hal ini selaras dengan potensi ekonomi daerah yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada sektor agraris.
“Pendampingan mualaf merupakan agenda strategis dakwah Muhammadiyah,” ujar Muchadam Arifin pada kesempatan peresmian.
Ia menambahkan bahwa kemandirian ekonomi menjadi faktor utama dalam proses integrasi sosial bagi mualaf.
Pemerintah Kabupaten Sekadau turut berkolaborasi dengan Muhammadiyah dalam penyediaan lahan dan infrastruktur dasar.
Gubernur Kalimantan Barat, Sutiyoso, menyatakan dukungan penuh terhadap proyek pendidikan keagamaan ini.
Ia menekankan bahwa keberhasilan MLC Sekadau dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia.
Pengurus LDK PP Muhammadiyah menargetkan penerimaan peserta pertama pada bulan Agustus 2026.
Proses seleksi akan melibatkan wawancara, tes pengetahuan dasar, serta evaluasi motivasi pribadi.
Setelah menyelesaikan program, lulusan diharapkan dapat menjadi mentor bagi generasi mualaf selanjutnya.
Selain itu, mereka akan didorong untuk membuka usaha mikro yang berorientasi pada produk lokal.
Skema pendampingan lanjutan mencakup pendirian koperasi komunitas yang dikelola oleh alumni MLC.
Pengawasan kualitas pembelajaran dilakukan oleh tim akademik Muhammadiyah yang terdiri dari para ulama dan pakar pendidikan.
Monitoring dan evaluasi akan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan LDK.
Komunitas setempat menyambut baik kehadiran MLC dengan harapan meningkatkan kualitas hidup dan toleransi antarumat beragama.
Beberapa tokoh masyarakat menyatakan kesiapan mereka untuk menjadi sukarelawan dalam program sosial MLC.
Dengan dukungan dana dari Yayasan Muhammadiyah dan sumbangan warga, total anggaran pembangunan mencapai Rp 12 miliar.
Proyek ini diharapkan selesai sepenuhnya pada akhir tahun 2026, termasuk pelatihan staf dan peresmian fasilitas tambahan.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa konstruksi bangunan utama telah mencapai 80 persen penyelesaian.
Para pekerja lokal terlibat aktif, menciptakan lapangan kerja sementara bagi warga Sekadau.
Keberlanjutan MLC Sekadau akan diintegrasikan dengan program pemerintah daerah dalam peningkatan kualitas pendidikan.
Dengan demikian, MLC Sekadau diharapkan menjadi pionir dalam menggabungkan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi bagi mualaf.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan