Media Kampung – 16 April 2026 | NU Care-LAZISNU meluncurkan program NUSAQU dengan mengusung konsep Green Qurban, menargetkan distribusi ke wilayah 3T.

Program ini bertujuan mengubah limbah qurban menjadi sumber energi terbarukan dan pupuk organik bagi petani setempat.

Pengolahan limbah dilakukan melalui instalasi bio‑energi yang memanfaatkan proses anaerobik untuk menghasilkan biogas.

Selain biogas, residu proses dijadikan pupuk cair yang dapat meningkatkan kesuburan tanah di daerah terpencil.

Wilayah 3T mencakup daerah yang tertinggal, terdepan, dan terluar, yang selama ini mengalami keterbatasan akses layanan dasar.

Dengan NUSAQU, NU Care-LAZISNU berharap dapat memperpendek kesenjangan pembangunan antara kota dan daerah 3T.

“Dengan Green Qurban, kami berharap dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat 3T,” kata Ketua NU Care-LAZISNU, KH. Ahmad Zaini.

Ia menambahkan bahwa program ini selaras dengan agenda nasional pengelolaan limbah dan transisi energi hijau.

Data awal menunjukkan bahwa satu ekor sapi qurban dapat menghasilkan hingga 250 liter biogas setelah proses pengolahan.

Setiap liter biogas diperkirakan dapat menyuplai kebutuhan energi rumah tangga selama tiga jam.

Pupuk organik yang dihasilkan mengandung nitrogen, fosfor, dan kalium dalam proporsi seimbang untuk pertanian organik.

Distribusi pupuk direncanakan melalui jaringan koperasi lokal yang telah beroperasi di wilayah 3T.

Proyek percontohan pertama dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi, salah satu daerah 3T di Jawa Timur.

Pada akhir April 2026, instalasi di Banyuwangi telah memproduksi 1.500 liter biogas dan 2 ton pupuk organik.

Hasil tersebut cukup untuk memasok energi listrik bagi 200 rumah tangga selama satu bulan.

Selain itu, pupuk organik telah disalurkan ke 150 hektar lahan pertanian kecil.

Respons petani setempat positif, mereka melaporkan peningkatan hasil panen padi hingga 12 persen.

Tim teknis NU Care-LAZISNU melaporkan bahwa proses pengolahan limbah aman dan tidak menimbulkan bau mengganggu.

Penggunaan teknologi anaerobik telah terbukti menurunkan emisi metana yang biasanya dilepaskan ke atmosfer.

Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030.

Program NUSAQU juga melibatkan relawan muda yang dilatih menjadi operator mini‑plant bio‑energi.

Pelatihan tersebut mencakup aspek teknis, keamanan kerja, dan manajemen limbah.

Keberlanjutan program didukung oleh pendanaan bersama pemerintah daerah, donatur swasta, dan zakat infak.

Anggaran awal NUSAQU mencapai Rp 45 miliar, dengan alokasi utama untuk infrastruktur dan edukasi masyarakat.

Pengawasan pelaksanaan dilakukan oleh tim audit internal NU Care-LAZISNU serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan kualitas produk.

Selain energi dan pupuk, limbah padat qurban diolah menjadi bahan bakar pelet untuk industri kecil.

Pelet tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pada kompor industri di daerah 3T.

Implementasi Green Qurban diharapkan dapat direplikasi ke provinsi lain yang memiliki tantangan serupa.

Rencana ekspansi mencakup Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Papua pada tahun 2027.

Jika berhasil, NUSAQU dapat menjadi model nasional dalam pengelolaan limbah ibadah secara berkelanjutan.

Saat ini, tim lapangan terus memantau efektivitas program dan menyiapkan laporan evaluasi triwulanan.

Dengan hasil positif yang sudah terlihat, harapan besar bahwa Green Qurban akan menjadi standar baru bagi pelaksanaan qurban di seluruh Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.