Media Kampung – 16 April 2026 | Menag Nasaruddin Umar menyerukan seluruh ormas Islam untuk memperkuat ukhuwah dan ekoteologi sebagai landasan persaudaraan serta kepemimpinan manusia sebagai khalifah di bumi.
Seruan tersebut disampaikan pada 15 April 2024 di Gedung Kementerian Agama, Jakarta, dalam rapat koordinasi yang dihadiri perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, dan organisasi keagamaan lainnya.
Menag menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah harus bertransformasi menjadi sinergi yang menanggulangi permasalahan lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Ia menambahkan, “Kita harus menginternalisasi nilai ekoteologi yang menempatkan alam sebagai amanah Allah, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan yang melahirkan tindakan konkret di lapangan.”
Ekoteologi yang dimaksud adalah pendekatan teologis yang menekankan tanggung jawab manusia menjaga bumi sekaligus menegakkan keadilan sosial.
Menag menyoroti peran ormas Islam yang memiliki jaringan luas di seluruh pelosok negeri, sehingga mampu menjadi motor penggerak perubahan lingkungan.
Ia mengajak ormas untuk menyelenggarakan program penghijauan, pengelolaan sampah, dan edukasi keagamaan yang mengaitkan ajaran Islam dengan pelestarian alam.
“Setiap masjid, madrasah, dan musholla dapat menjadi titik awal penanaman pohon serta tempat penyuluhan tentang ekologi,” ujar Nasaruddin Umar.
Selanjutnya, Kementerian Agama akan menyiapkan modul pelatihan ekoteologi yang diharapkan dapat diadopsi oleh lembaga pendidikan Islam.
Modul tersebut akan mencakup kajian Al-Qur’an tentang alam, hadis tentang kepedulian lingkungan, serta contoh praktik keberlanjutan di komunitas Muslim.
Program pelatihan direncanakan diluncurkan pada bulan Juni 2024 dengan target 500 fasilitator dari seluruh provinsi.
Para ormas pun menyambut baik inisiatif tersebut dan menegaskan komitmen mereka untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi dalam kegiatan rutin.
Ketua Umum Nahdlatul Ulama, KH. Yaqut Al‑Basyir, menyatakan, “Kami siap menjadi mitra strategis dalam upaya menumbuhkan kesadaran ekologis yang berlandaskan pada ajaran Islam.”
Demikian pula, Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Komaruddin Hidayat, menambahkan bahwa organisasi akan mengalokasikan dana khusus untuk program penghijauan di wilayah rawan kebakaran.
Selain ormas, pemerintah daerah juga diharapkan berperan aktif dalam menyediakan lahan dan logistik bagi kegiatan penanaman pohon.
Beberapa provinsi, termasuk Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, telah menyatakan kesiapan menyediakan lahan seluas 1.200 hektar untuk program tersebut.
Menag menutup pertemuan dengan menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi berkelanjutan guna memastikan dampak positif jangka panjang.
Ia meminta lembaga riset dan universitas untuk berkolaborasi dalam mengukur efektivitas program ekoteologi yang dilaksanakan oleh ormas Islam.
Hingga kini, lebih dari 30 ormas Islam telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Agama, menandakan momentum kuat untuk memperkuat ukhuwah dan ekoteologi.
Kondisi terbaru menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam aksi bersih‑bersih dan penanaman pohon yang dilaporkan mencapai 15.000 bibit pada awal Mei 2024.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan