Media Kampung – 15 April 2026 | Mustasyar PBNU Abu Mudi menyingkap besarnya keutamaan Majelis Taklim dalam rangkaian pengajian Tastafi yang diadakan baru-baru ini, menegaskan peran sentralnya dalam memperkuat keimanan umat Islam.

Abu Mudi, yang menjabat sebagai Mustasyar Persatuan Nahdlatul Ulama (PBNU), menyampaikan materi pada hari Kamis, 11 April 2026, di Balai Pertemuan Kegiatan Keagamaan Kabupaten Jember.

Majelis Taklim, sebagai forum belajar agama yang bersifat non-formal, menyatukan peserta dari berbagai lapisan masyarakat untuk mendalami ilmu Islam secara komprehensif.

Pengajian Tastafi sendiri dirancang untuk menelaah tafsir Al‑Qur’an, hadis, serta fiqh secara tematik, sehingga peserta dapat mengaitkan pengetahuan dengan tantangan kehidupan sehari‑hari.

Dalam penjelasannya, Abu Mudi menekankan bahwa kehadiran Majelis Taklim dapat menumbuhkan ukhuwah, meningkatkan kesadaran moral, serta memperkuat identitas keagamaan umat.

“Jika keutamaan ini diketahui, umat akan berlomba‑lomba untuk hadir,” ujarnya, menambahkan bahwa semangat kolektif menjadi pendorong utama keberhasilan program.

Data yang dihimpun PBNU menunjukkan peningkatan partisipasi sebesar 35 % dibandingkan pengajian sebelumnya, dengan total peserta mencapai 150 orang pada sesi pertama.

Para peserta, yang sebagian besar berasal dari desa‑desa sekitar Jember, melaporkan rasa puas karena materi disajikan secara aplikatif dan mudah dipahami.

Materi yang diajarkan mencakup kajian tentang akhlak, ekonomi syariah, serta tata cara ibadah yang sesuai dengan konteks modern.

Ulama‑ulama yang terlibat memberikan penjelasan rinci, sehingga peserta dapat menelaah permasalahan kontemporer dengan landasan syariah.

Program ini selaras dengan agenda PBNU yang menargetkan pembinaan Majelis Taklim di setiap kecamatan sebagai upaya revitalisasi pendidikan agama.

Sejarah Majelis Taklim di Indonesia bermula sejak era kolonial, ketika masyarakat menggunakan forum informal untuk melestarikan ilmu agama di tengah tekanan sosial.

Namun, dalam era digital saat ini, tantangan muncul berupa penurunan minat generasi muda terhadap pembelajaran tradisional.

PBNU merespons dengan mengintegrasikan teknologi, seperti penyiaran daring dan materi interaktif, untuk menarik partisipasi lebih luas.

Abu Mudi menyatakan harapan agar Majelis Taklim tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga wadah pembentukan karakter yang tangguh.

Ia menambahkan rencana pengembangan meliputi pelatihan fasilitator, penyediaan modul berbasis multimedia, serta kolaborasi lintas lembaga keagamaan.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa Majelis Taklim akan digelar secara rutin setiap minggu, dengan target peningkatan peserta hingga 200 orang dalam tiga bulan ke depan.

Pengorganisasian acara kini melibatkan relawan lokal, sehingga logistik dan komunikasi dapat berjalan lebih efektif.

Dengan momentum ini, Mustasyar Abu Mudi menegaskan bahwa keutamaan Majelis Taklim akan terus diangkat sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat berakhlak mulia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.